Muhammad : Mitos atau Fakta Sejarah ? Bab 4

Bab 4

SIAPAKAH SUKU QURAISH?

Saya telah sering mencari etimologi dan asal-usul dari kata ini, sebagaimana sering dikatakan bahwa Suku Quraish adalah suku yang kuat yang memerintah kota Mekkah. Namun ternyata Tradisi Islam terbukti keliru di semua jejak yang bisa diverifikasi yang telah kami temukan. Mari kita lihat selanjutnya.
Entri yang kita bisa temukan di Wikipedia tentang suku Quraish ternyata samar, hanya didasari kisah-kisah tradisional.
Quraish atau Quraisy (Arab: قريش) Qurayš. Transliterasi lainnya termasuk "Quresh", "Quraysh", "Koreish" dan "Coreish". Turki: Kureyş) adalah suku yang dominan di Mekah pada waktu munculnya agama Islam. Ini adalah suku dimana nabi Muhammad, nabi Islam berasal, serta suku yang memimpin oposisi awal terhadap pesannya. Menurut legenda populer, kaum Quraish merupakan cabang dari Banu Kinanah suku, yang merupakan turunan dari suku Khuzaimah. Suku Quraish benar-benar tercerai-berai sampai Qusai bin Kilab berhasil mengerahkan barisannya ke tempat terhormat sehingga memiliki status terhormat dan memegang jabatan-jabatan penting [klarifikasi diperlukan] -. Setelah Islam muncul, supremasi suku Quraish bertambah dengan menghasilkan tiga dinasti, kalifah Ummayad, Kalifah Abbasid dan Kalifah Fatimid.
Ada sebuah surah yang dinamai surah Quraish(QS 106) atau berarti “musim panas” yang dikatakan sumber dari surah 105. Namun susunan kronologis dari surah ini sedikit longgar.
(ayat 1)
For the taming of Qureysh.Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,(ayat 2)For their taming (We cause) the caravans to set forth in winter and summer.(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas(ayat 3)So let them worship the Lord of this HouseMaka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini.(ayat 4)Who hath fed them against hunger and hath made them safe from fear.Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.
Satu poin yang paling penting adalah (mengacu pada terjemahan bhs Inggris) "Karena kebiasaan mereka Kami menyebabkan karavan-karavan untuk pergi di musim dingin dan dimusim panas."
Kita akan melihat betapa 'Quraish' sangat berkaitan dengan para caravaners atau pengguna karavan, para kafilah, namun dari dua latar belakang yang sangat berbeda! Dan sama sekali tidak bisa orang nomaden dikait-kaitkan dengan pemukiman manapun, apalagi menurut definisi yang ada – dengan kota Mekkah.
Suatu riset ekstensif yang dilakukan oleh Richard W. Bulliet tentang sejarah perdagangan di Timur Tengah kuno melukiskan gambaran yang berbeda dengan legenda Tradisi Islam. Klaim Muslim tampaknya benar-benar keliru: “Mekah benar-benar tidak berada di rute perdagangan utama, karena Mekah ini terletak di tepi semenanjung. Hanya dengan pembacaan peta yang sangat dipaksakan maka kita bisa menganggap Mekkah sebagai persimpangan alami antara Utara – Selatan dan Timur-Barat.”

Penelitian.yang dilakukan oleh N. Groom dan WW Muller menguatkan pandangan ini. Mereka telah menulis, "Mekah tidak mungkin berada dalam rute perdagangan, sebab akan menyimpang dari rute alami sepanjang jalur Barat ." Bahkan, mereka menegaskan bahwa rute perdagangan haruslah menjauh dari arah Mekkah sampai sejauh seratu mil "

Selain itu perdagangan Yunani-Romawi dengan India telah runtuh sekitar abad ke-3. Oleh karena itu, dalam jaman Muhammad (dengan asumsi bahwa ia benar-benar pernah hidup di Mekkah dan lahir dari suku Qurasih, yang terampil dalam berdagang dengan memakai karavan) tidak ada suatu rute darat maupun pasar Romawi yang menjadi tujuan dari perdagangan. Perdagangan memang masih tetap ada, namun dikontrol oleh bangsa Abyssinia (Etiopia) dan bukan orang Arab, dan bukan Mekah, tetapi Adulis, kota pelabuhan di pantai Abyssinia Laut Merah, adalah pusat perdagangan wilayah itu.

Para sejarawan Yunani seperti Cosmas, Procopius dan Theodoretus yang lebih dekat dengan peristiwa waktu, dan bahkan orang-orang Yunani, kepada siapa dagangan itu ditujukan, tidak pernah sedikitpun mendengar tentang suatu tempat yang disebut Mekkah. Jika Mekka benar-benar begitu penting, tentu saja para pedagang pernah mencatat keberadaannya. Patricia Crone dalam karyanya menyebutkan bahwa dokumen-dokumen berbahasa Yunani seringnya menyebutkan kota Ta’if ( yang mana sebelah tenggara dari kota Mekkah sekarang), dan Yatrib (yang nantinya disebut Madinah), dan juga Kaybar/Khayber (yang berarti ‘benteng’ dalam bahasa Ibrani) di utara. Namun tidak pernah disebutkan tentang adanya Mekkah. Dalam keadaan ini, historisitas Mekkah sebagai suatu kota pemukiman tepat di jantung pusat Islam awal menjadi sangat meragukan.

Akhirnya, di samping ketidak-sepakatan terhadap lokasi geografis Mekah dalam sumber-sumber sekuler awal, ada suatu kebingungan bahkan di dalam tradisi Islam. Menurut riset yang dilakukan oleh J. van Ess (juga dalam Muhammad bin Ahmad al-Dahabi, 1369), baik dalam perang sipil pertama dan kedua, ada catatan-catatan tentang orang yang melanjutkan perjalanan dari Madina ke Irak lewat Mekkah. ( Penerjemah: tentu saja ini keliru sebab Mekkah berada jauh di selatan Madinah. Untuk apa orang dari Madinah hendak pergi ke Irak, yaitu ke arah utara, harus melewati Mekkah yang ada di selatan ? Ataukah istilah Mekkah tadinya merujuk pada suatu tempat ke arah utara Medinah?)
Memang, Catatan Sejarah dari Isidor, The continuo Byzantia Arabika (paruh kedua abad 8 M) menyebutkan pertempuran ... "apud Maccam, Abrahae, ut IPSI putant, domum, quae antar Ur Chaldaeorum et Carras Mesopotamiae urbem di heremo adiacet "("... di Mekkah, Rumah Abraham, sebagaimana mereka [orang Arab] percayai, terletak di padang gurun antara Ur Kasdim dan Carras, Mesopotamia ". (Ohlig, Der Islam frühe S.368). - Carras di sini pastilah Carrhae Romawi, atau paling tidak Harran. Jadi kita kembali ke kisah-kisah Alkitab tentang asal-usul Abraham / Ibrahim!
Rute Perdagangan Kemenyan ada dua, tetapi satu, yang sebelah kiri, terlalu berangin (Jeddah), dan itu tidak banyak digunakan.
Image
Jadi, siapa suku 'Quraish' yang misterius ini? Pencarian ini belum dilakukan dengan benar sejauh ini, karena para akademis terlalu mengandalkan pada Tradisi Islam. Dari penelitian saya, Quraish tidak berarti sebuah suku, tetapi semacam kawanan para pedagang, suatu unit kerja. Kata ini tadinya berarti suatu iring-iringan panjang karavan, jaman kita sekarnag mungkin sama seperti asosiasi sopir truk! Saya menemukan bahwa asosiasi ini gabungan dari asosiasi dua jalur yang berbeda: Jalur Kemenyan dan Jalur Sutra! Akar dari keberadaan Quraish berasal dari Jalan Sutra. Hal ini telah luput dari perhatian para sarjana dan telah lama membingungkan saya.
Etimologi yang paling mungkin untuk kata ‘Quraisy / Quraish’ berasal dari bahasa Elam 'Kuraysh' yang juga berada di belakang nama Cyrus. Ini berarti ''Mereka yang dilimpahkan perawatan” untuk tugas itulah para pedagang dengan Karavan baik di Jalur Sutra maupun Jalur Kemenyan bepergian. Mereka mungkin berasal dari Khurasan, Iran.
Keduanya jalur itu agaknya bertemu di Damaskus dan Babilonia, di mana mereka pasti memiliki pertukaran komersial dalam skala besar (haji)!
Itulah sebabnya suksesi kepemimpinan Muhammad menjadi sangat problematis: ada dua pihak mantan Qurais yang merasa berhak pihak Abu Bakar (Aisyah) vs pihak Ali. Jadi, 'Pertempuran Unta' bisa dipahami sebagai pertempuran antara mereka yang menunggang unta jenis Bactrian (berpunuk dua) dengan mereka yang menunggang unta jenis dromedaries (berpunuk satu).
Dua jalur perdagangan utama para ‘Quraish’ : Jalur Kemenyan dan Jalur Sutra bertemu di Babilon dan Damaskus.
Image
Dari peta ini, nama Aila (Aqaba, Eilat) seharusnya diperhatikan lebih jauh. Ini penting karena ketidak-hadiran Mekkah (penerjemah: Mungkin maksud penulis, karena Mekkah dan Quraish tidak pernah disebut-sebut dalam dokumen perdagangan saat itu, tidak mungkinkah Aila berhubungan erat dengan pergerakan kaum Hagarin awal ?)
Mari kita melihat satu penelusuran lagi tentang Quraish dari Muhammad and the origins of Islam, Francis E. Peters
Orang Arab sering berkata “ kafilah Quraisy telah tiba''. Atau mereka berkata bahwa Quraisy adalah panduan dari Bani al-Nadr, bertanggung jawab
untuk approvisioning mereka. Ibn al-Kaldi mempertahankan Quraisy yang merupakan nama kolektif. Cerita lain menceritakan bagaimana nama berasal dari
Al-Nadr bin Kinana, karena ia “tampak seperti unta Quraisy'' Satu lagi menyatakan bahwa itu berasal dari makhluk laut yang mengerikan:. al-qirsh.

Dan begitulah etimologi yang tidak meyakinkan terus berlanjut, dan setidaknya salah satu dari mereka menunjukkan bahwa Quraisy istilah yang lebih baru. Jelas bahwa orang Arab tidak tahu jelas siapa kaum Quraish.
Lebih dalam Tentang Quraish dan Qadesh, adakah keterhubungan keduanya ?
  1. Dalam bahasa Ibrani Qadesh berarti suci / kudus, berasal dari bahwa Phoenisi – Qadesh. Kata ini juga ditujukan untuk kuil pelacuran.
  2. Dalam bahasa Ugaritik, Qadesh berarti suci, seperti dalam sebutan ‘binu Qadishi’ (anak kesucian)
  3. Dalam bahasa Akkadian berarti penyucian, pemurnian; kadhistu: membaktikan diri untuk Ihstar.
ketiga kemungkinan di atas tidak cukup berhubungan dengan KDS atau KRS.
Dinasti Persia Achaemenid juga dikenal sebagai dinasti Kurarysh, dari Anshan di Elam dimana mereka membangun dinasti.
Dalam bahasa Arab Kuraysh berarti “yang datang bersama-sama setelah terpisah”, “makan dari hasil jerih payah”, “ditugas peziarahan”, atau mahluk misterius dari laut – al-qirsh. Nama ini juga adalah mata uang Arab, dan kita juga mengenal ada Ilwat al-Qirsh, sebuah pulau di Danau Mangala dekat pelabuhan Said. Tak ada satupun dari arti itu yang menolong. Tampaknya semua arti malah membingungkan.
Namun ada satu referensi tentang ‘Koreysh’ dari Chronicle Theophanes yang mengatakan sekutu Arab (feodi) bagi Kaisar Heraclius. Ketika merujuk pada orang, maka etimologi ini berhubungan dengan suku Kurdi, bahasa Kurdi. Suku Kurdi utamanya orang Perisa dan Indo-Eropa tetapi mereka melampaui satu etinisitas spesifik, sebagai minoritas di Iran (7 %), di Irak (17 %), di Turki (18%) dan bahkan Siria (9%).
Suku Kurdi (dalam bahasa Kurdi: کورد ) adalah kelompok etnis ethnolinguistic keturunan Iran, kebanyakan menghuni suatu wilayah yang dikenal sebagai Kurdistan, yang termasuk bagian perbatasan dengan Iran, Irak, Suriah, dan Turki. (...) kebanyakan berbicara Kurdi, sebuah bahasa Indo-Eropa dari cabang Iran. Suku Kurdi diklasifikasikan sebagai rakyat Iran tahun (...) "Bahasa Kurdi" bukan entitas linguistik terstandar dengan jelas, dengan status resmi atau bahasa negara. Bahasa Kurdi adalah sebuat kontinum dialek-dialek terdekat yang dipakai oleh masyarakat dalam area geografis yang merentang beberapa Negara, dalam beberapa negara ini mereka membentuk sau atau beberapa substandard regional( …) Bahasa Kurdi milik sub-kelompok bahasa-bahasa Iran barat-laut, yang pada gilirannya masuk ke cabang Indo-Iran dari keluarga Indo-Eropa. Bahasa Hurrian yang lebih tua dari orang-orang yang mendiami wilayah Kurdi digantikan oleh bahasa Indo-Eropa sekitar 850 SM, dengan kedatangan orang Media ke Iran Barat. (….)
Kita dapat lihat bahwa suku Kurdi membentuk persekutuan dengan orang Elam di Iran Barat Daya. Namun pada saat ini saya tidak menyatakan seberapa terhubungnya mereka dengan Cyrus. Satu hal yang bisa diyakini di sini bahwa bangsa Kurdi seperti Persatuan Bangsa-bangsa dalam skala kecil, sekumpulan orang-orang yang patut dipelajari. Bahkan ada Kurdi Yahudi (yahudi pegunungan, Khazars) dan studi ADN saat ini membuktikan betapa kuatnya kekerabatan Cohen Modal Haplotype. ‘Kurdi’ lebih cenderung ke perkumpulan sosio-ekonomi dar pada etnisitas. Bisa jadi ada hubungan antara arti Kuraysh dalam bahasa Elam “mereka yang menyediakan barang-barang” sebagai suku nomad.
Peta Mesopotamia kuno (Hurria, Akkadia, Subartu, Amurru, Elam, dll)
Image
(akhir dari bab 4)

sumber:http://islamsejarah.blogspot.com/2011/09/muhammad-mitos-atau-fakta-sejarah-bab-4.html

Read More..

Muhammad : Mitos atau Fakta Sejarah ? Bab 3

DIMANA KIRANYA “MEKKAH” SEBENARNYA ?

Berkat Brother Ayman di free-minds.org kita sekarang tahu bahwa akar kata MKK atau MK(t) (yang ditafsirkan sebagai kota Mekkah) sebenarnya hanya berarti “kehancuran atau penghancuran”. Kita juga menemukan bahwa Kaa'bah bukanlah suatu istilah religius, tetapi mengacu pada 'dasar' yang bisa dipahami sebagai 'fondasi'. Kemudian kita telah belajar bahwa 'Haji' adalah sesuatu event seperti festival desa atau pasar desa di mana para petani dan peternak memperlihatkan barang-barang mereka dan melakukan debat atau tawar menawar. 



Sekarang mari kita lihat perspektif yang lebih banyak tentang mitologi jelas 'Mekkah' dan penyembahan berhala yang dipaksakannya. Di bawah ini saya kutip dengan catatan G. R. Hawting tentang Mekkah. Saya hanya mengambil sebagaian saja yang berisi penekanan inti menurut saya pribadi. 
Tampaknya mungkin bahwa kaabah di Mekah dipilih setelah proses eliminasi kemungkinan-kemungkinan lain – yaitu dari sejumlah situs suci di jaman Islam Awal yang memiliki banyak pelancong, sampai akhirnya Mekkah menjadi mapan sebagai tempat suci. (….) Kaa’bah itu sendiri seperti yang sering dikatakan telah dihancurkan dan dibangun kembali. Hajar Aswad / Batu Hitam beberapa kali diambil dari Kaabah dan diletakan kembali di tempatnya. Batu yang disebut Maqam Ibrahim dipindahkan karena banjir dan oleh tindakan manusia. Sumur Zamzam yang "ditemukan" pada dua kesempatan terpisah. Al-Masjid al-Haram, mesjid di mana Ka'bah berada, beberapa kali dibangun kembali dan diperbesar. (….) Bahkan tradisi muslim mengakui bahwa sejarah dari tempat kudus dan penggabungan dengan Islam tidak dapat disajikan sebagai pengembangan sederhana dan lugas.

Maqam Ibrahim

Referensi yang paling jelas yang tampaknya bertentangan dengan gagasan bahwa Makam Ibrahim adalah batu suci sebagai tempat suci Muslim ada di QS 2:125:
QS 2:125 wrote:“Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat” 

Sehubungan dengan ayat ini para penafsir memberikan sejumlah penjelasan yang berbeda tentang apa yang dimaksud dengan Maqam Ibrahim. Selain pandangan bahwa nama di sini merujuk ke batu yang dimaksud di dekat Kaabah, maqam ini juga dikatakan merujuk seluruh kawasan Masjidil Haram atau berbagai daerah sepanjang Masjidil Haram.


Konteksnya tampaknya membutuhkan penjelasan seperti ini karena itu diperlukan untuk menjelaskan kata depan ‘min’ sebagai partikel berlebihan jika diinginkan untuk menganggap referensi Al-Quran sebagai batu yang sekarang disebut Maqam Ibrahim. Oleh karena itu secara keseluruhan, ayat ini tidak konsisten dengan arti yang biasa diterima dari nama ‘Maqam Ibrahim’. 

Tampaknya jelas bahwa, entah referensi itu menunjuk ke al-Maqam atau Maqam Ibrahim, sering ada beberapa kesulitan dalam merekonsiliasi referensi dengan tempat suci di Mekkah seperti yang kita ketahui, atau beberapa saran menyatakan bahwa itu bukan batu yang sekarang menyandang nama Maqam Ibrahim. Karena tampaknya tidak mungkin bahwa referensi semacam ini lahir setelah tempat suci Muslim itu disahkan di Mekkah dalam bentuk yang kita tahu itu. Kelihatannya referensi itu berasal dari periode-periode awal ketika Maqam Ibrahim pernah memiliki arti lain, sebelum arti yang dikenakan padanya sekarang. (…) 
Tampaknya ada cukup rujukan bahwa istilah Maqam Ibrahim muncul pertama kali dalam konteks kitab Kejadian. Dan saya tidak melihat penjelasan alternatif lain untuk penggunaan istilah itu dalam cara di mana itu terjadi di Quran dan beberapa bahan lain dikutip di atas. Saya membayangkan bahwa nama itu pertama muncul sebagai sebutan untuk tempat kudus karena di sanalah Abraham berdiri di hadapan Allah, ketika kaabah Mekah diambil alih, untuk alasan yang tidak jelas, Maqam Ibrahim tidak dipahami dan digunakan sebagai nama untuk situs penyembahan itu secara keseluruhan, sehingga menjadi melekat hanya pada batu yang sekarang menyandang namanya.

Dalam kitab Kejadian 28:13 kita menemukan informasi yang mungkin bisa menjelaskan masalah Maqam Ibrahim ini. :
Kejadian 28:13 wrote:Berdirilah TUHANdi sampingnya dan berfirman: "Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.
Nampaknya frasa tanah “tempat engkau berbaring” yang sebenarnya dimaksudkan sebagai tempat Yakub tertidur, disalah pahami sebagai tempat dikuburkan, dan juga disini Yakub malahan diganti dengan Abraham, sebagai tokoh tonggak dari keimanan kaum Ismail.

Al Rukn 

Istilah ini dijelaskan dalam dua pengertian: Al Rukn bisa berarti Batu Hitam yang ditempatkan secara tetap di sudut tenggara Ka'bah, atau pilar sudut itu sendiri yang berisi Batu. Terkadang juga disebut al-Rukn al-Aswad yang menyiratkan makna ganda: batu dan pilar sudutnya. Kadang-kadang nama al-Hajar al-Aswad digunakan, tetapi hanya mengacu pada Batu Hitamnya saja, bukan pilar sudutnya. Bentuk jamak, al-Arkan, juga ditemukan dalam kaitannya dengan tempat kudus, dan dijelaskan sebagai mengacu pada empat sudut Ka'bah .
Ungkapan " tanah tempat engkau berbaring " dalam ayat di atas tidak diartikan bahwa Yakub dikuburkan di tempat di mana dia mendapatkan mimpinya, di daerah kuil suci. Janji Tuhan kepada Yakub adalah bahwa Ia akan memberikan "tanah tempat engkau berbaring" kepada keturunan Yakub dipahami sebagai janji ilahi dari Allah atas seluruh Tanah Yang Dijanjikan untuk Israel semua wilayah yang dijanjikan itu disimbolkan menjadi seukuran tempat di mana Yakub sedang tidur.
Seperti disebutkan sebelumnya kesucian pegunungan al-Hijr dalam tradisi Muslim berasal sebagian dari fakta bahwa Ismail dimakamkan di sana, dan keturunan Ismail memiliki Tempat Suci (...)
Dalam kisah di Kejadian, Yakub mendirikan mesbah batu di tempat dia tertidur: ini adalah batu yang tadinya ia pakai sebagai bantalan tidur, dan Yakub menyebutnya "Bethel = Rumah Allah) " Batu itu, secara alami, dielaborasi dalam berbagai cerita. Ia diidentifikasi dengan Shetiya Eben, batu penjuru Bait Allah dan poros di mana titik keseimbangan seluruh dunia berada, setelah Yakub telah mengatur itu, Tuhan turun dan memberkati tempat itu di mana ia berfungsi sebagai batu penjuru bagi seluruh dunia. Tampaknya kisah tentang Batu Hitam (al Rukn) berasal dari nama Shetiya Eben atau pengembangan itu. (...)
Sekali lagi penjelasan yang paling memuaskan adalah melihat Al-Rukn sebagai sisa dari kuil penyembahan kaum Yahudi saat itu sebelum diambil alih oleh Islam. Al-Rukn awalnya adalah batu penjuru surgawi yang terkubur di bawah kuil tersebut. Ketika kuil itu diambil alih oleh Islam, nama dan beberapa ide-ide yang terkait dengan itu diterapkan pada batu tempat kudus itu, seperti misalnya Batu Hitam. Tapi, karena nama al-Rukn (pilar, dukungan, fondasi) berarti sesuatu yang lebih dari sekedar "batu," nama itu juga berlaku untuk sudut yang dimana Batu Hitam itu ditempatkan. Saya berpendapat bahwa perkembangan ini melambangkan ide-ide awal dimana kuil itu kemudian dimodifikasi dan disesuaikan dengan mempertimbangkan fakta-fakta penggambaran tentang Mekkah (sesuai dengan Tradisi Islam yang sedang berkembang) sehingga bisa berfungsi sebagai kuil suci Islam.
Saya rasa dengan bukti-bukti yang diajukan di atas sulit untuk memahami jika versi biasa tentang Mekah dalam Tradisi Islam tetap diterima, dan bahwa skema alternatif yang disarankan di sini menurut saya diperlukan untuk menjelaskan bukti yang telah saya sajikan.
Image
Sekarang saya akan mengutip dari :
Dari bukti-bukti yang tersedia, sangat diragukan bahwa Mekkah ada sebagai pusat dari kepentingan apapun, paling tidak, pasti Mekkah tidak seperti apa yang digambarkan dalam Al Qur'an. Para ahli geografi Ptolemy Romawi sering dikutip sebagai saksi awal ke Mekah, melalui keterangan tentang sebuah kota yang bernama Macoraba. Namun, seperti telah ditunjukkan, "Macoraba" adalah akar bahasa yang berbeda dari Mekkah. Crone, lebih lanjut, menunjukkan bahwa Ptolemy Macoraba tidak dapat diidentifikasi dengan Mekah, dan bahwa jika Ptolemy mengacu pada apa pun seperti Mekah, itu akan berkunjung ke sebuah kota di Saudi Petraea bernama Moka, jauh di sebelah utara Mekkah. Identifikasi dengan Mekkah tradisi Islam, jelas, sangat lemah.

Mekah sebagai pusat perdagangan karavan dseperti yang digambarkan dalam tradisi Islam, praktis tidak pernah dikenal oleh orang jaman itu sendiri. Sedangkan Arabia (istilah yang dapat mencakup padang pasir timur Al-Syams) adalah ranah politik penting dan gerejawi di abad ke-6, dan tidak perna disebut-sebut tentang Quraish atau pusat perdagangan Mekkah dengan cara apapun, dalam sastra dari waktu itu, meskipun penulis Yunani dan Latin telah menulis secara ekstensif tentang perdagangan yang memasok rempah-rempah dan barang lainnya bagi mereka dari Arab selatan, dan yang diasumsikan dalam tradisi Muslim sebagai hasil komoditas Mekah.

Crone menunjukkan bahwa dalam sumber-sumber jaman itu dengan pematangan dari agama Arab (akhir 7 - abad ke-8), tampaknya bahkan ada beberapa kebingungan dimana letak Mekah itu. Dia mencatat bahwa Continuatio Byzantia Arabika memberikan lokasi untuk Mekkah antara Ur dan Harran, bukan di Hijaz - Arab, tapi di tepi Mesopotamia. Hal ini mungkin menyamarkan pengaruh Ibrahim jelas dalam agama Arab selama waktu ini (sebagai Abraham terkait dengan kedua kota itu dalam catatan Alkitab).

Bukti lain dari Islam sebagai agama yang berasal-usul dari asal Suriah terletak dalam disposisi lingkungan religius di mana orang-orang Arab Al-Syams tinggal di suatu tempat yang digambarkan berbeda dengan penggambaran Hijaz. Tidak ada bukti arkeologis yang mendukung pendapat ini dalam Al Qur'an bahwa Makkah dan Hijaz adalah pusat paganisme Jahiliah pra-Islam Jahiliah. Bahkan, belum pernah ditemukan ada bukti kuat tentang pemukiman Arab yang permanen di wilayah Hijaz di abad ke 6 dan 7 awal.

Memang ada bukti yang persis tentang pusat paganisme dan praktik, dan kuil-kuilnya sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an dan tradisi Islam – namun wilayah sekitar Syria dan Palestina. (...) Lebih lanjut, ada bukti bahwa apa yang disebut "bahasa Arab klasik" (bahasa Al-Qur'an) tidak berasal dari semenanjung Arab, melainkan muncul dari komunitas Arab Al-Syams. Mengapa bahasa Arab klasik diadaptasi dari bahasa Aram yang memiliki 22 alfabet, yang sebenarnya tidak begitu cocok untuk menyalin bahasa Arab, padahal aksara yang dipakai oleh suku-suku Arab Selatan memiliki alphabet antara 28 dan 29 buah yang seharusnya lebih cocok untuk kesusasteraan Arab klasik ?

(Maksud penulis, bukankah alphabet Arab selatan lebih luas dan lebih mampu mengungkapkan makna puitis dari bahasa Arab klasik? Mengapa justru bahasa Arab dan penulisan Quran berasal dari bahasa Aram di utara? Jelas dari sini ada bukti yang menguatkan bahwa Quran dan akar lingkungan Islam sebenarnya bukan dari Hijaz, Arab, melainkan di utara, daerah antara Siria, Palestina dan Mesopotamia – penerjemah)

Fakta bahwa bahasa dengan alphabet yang lebih sedikit yang dipilih untuk menuliskan Quran, menyiratkan ketersediaan bahasa berbasis Aram, yang pada gilirannya menyarankan bahwa asal-usul Arab klassik berada jauh di sebelah utara Hijaz , antara Suriah, Palestina dan Mesopotamia. Bahkan, tidak ada bukti epigraphic atau lainnya untuk Arab klasik di wilayah Hijaz sampai pemerintahan Muawiyah di tahun 660-an M. Pemunculan yang begitu terlambat ini, ditambah dengan fakta bahwa Arab Klasik muncul di Hijaz dengan begitu canggih tanpa bukti evolusi yang panjang, mengindikasikan bahwa ia diperkenalkan dari luar, bukan dari hasil evolusi perkembangan budaya Arab Hijaz itu sendiri. Mungkin ini hasil pencangkokan dari usaha kolonisasi yang dilakukan oleh Muawiyah. Jejak-jejak perkembangan Arab Klasik dari para pendahulu Islam ternyata ditemukan di Siria, dimana sebuah bentuk awal dari bahasa ini yang ditulis dalam aksara proto-Kufik telah ditemukan di sejumlah tempat tertanggal abad 6 M, termasuk di hiasan-hiasan pintu-pintu gereja.

QS 3:96-97: 

Lo! the first Sanctuary appointed for mankind was that at Becca, a blessed place, a guidance to the peoples; Wherein are plain memorials (of Allah's guidance); the place where Abraham stood up to pray; and whosoever entereth it is safe.
And pilgrimage to the House is a duty unto Allah for mankind, for him who can find a way thither. As for him who disbelieveth, (let him know that) lo! Allah is Independent of (all) creatures.
 
Terjemahan ayat di atas : 
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah ,yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, maqam Ibrahim (dalam terjemahan Inggris bukanlah makam Ibrahim, melainkan tempat dimana Ibrahim berdiri untuk berdoa) barangsiapa memasukinya, menjadi amanlah dia; mengerjakan ziarah adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah [2l6]. Barangsiapa mengingkari , maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.
Ada sebuah lembah besar dan subur di Lebanon yang disebut Bekaa, sangat mudah untuk ditemukan. http://en.wikipedia.org/wiki/Beqaa_Valley
Dan tentu saja kita menemukannya di: Mazmur 84:1-8 

How amiable are thy tabernacles, O LORD of hosts! My soul longeth, yea, even fainteth for the courts of the LORD: my heart and my flesh crieth out for the living God. Yea, the sparrow hath found an house, and the swallow a nest for herself, where she may lay her young, even thine altars, O LORD of hosts, my King, and my God. Blessed are they that dwell in thy house: they will be still praising thee. Selah. Blessed is the man whose strength is in thee; in whoseheart are the ways of them. Who passing through the valley of Baca make it a well; the rain also filleth the pools. They go from strength to strength, every one of them in Zion appeareth before God. O LORD God of hosts, hear my prayer: give ear, O God of Jacob. Selah.
Terjemahan ayat di atas : 
Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!
Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela
Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.
Dalam mazmur ini kita juga menemukan referensi untuk ‘Rumah Allah Yakub’ tertulis Baitullah dalam Quran! Pastilah ini yang disebut ‘Maqam Ibrahim’ di QS 2:125. Sungguh benar-benar sangat jauh dari Mekkah di mana ibadah haji itu dilakukan. Benar-benar sebuah penipuan.

ABEL-BETH MACAAH


Abel-Bet MACAAH adalah sebuah kota yang dirujuk Alkitab dalam kitab 2 Raja-raja 15:29; 2 Sam.20: 14-18 sebagai Abel-Bet Maakha. Kisah-kisah Perjanjian Lama menyebutnya sebagai sebuah kota di zaman Daud. Suatu hal yang seharusnya para pengkaji Al Quran ketahui. 

a'-bel-beth-ma'-a-ka ('abhel beth ma`akhah : padang rumput rumah Maakha): nama ini muncul dalam bentuk ini dalam 1 Raja-raja 15:20 2 Raja-raja 15:29 dan . Dalam 2 Samuel 20:15 ( dalam bahasa Ibrani) inilah Abel-Bet-hammaacah (Maakha sebagai kata sandang untuk tempat). Dalam 2 Samuel 20:14 muncul sebagai Bet-Maakha, dan dalam ayat 20:14 dan 18 sebagai Abel. Dalam 2 Samuel ini diucapkan sebagai kota, jauh ke utara, di mana Yoab mengepung Seba, anak Bichri. Dalam 2 Raja-raja itu disebutkan, bersama dengan Iyon dan tempat-tempat lain, sebagai kota di Naftali ditangkap oleh Tiglathpileser, raja Asyur. Menangkap muncul juga dalam catatan Tiglat Pileser.
Dalam 1 Raja-raja itu disebutkan tentang kota Iyon dan Dan dan "seluruh tanah Naftali" sebagai dipukul oleh Benhadad dari Damaskus pada jaman Baasha. Dalam 2 Tawarikh 16: 4 catatan yang menjadi parallel kisah itu kota-kota yang disebutkan adalah Iyon, Dan, Abel-Maim. Abel-Maim baik nama lain untuk Abel-Bet Maakha, atau nama tempat lain di sekitar yang sama. Identifikasi berlaku Abel-Bet-Maakha adalah dengan Abil, beberapa mil ke barat dari Dan, pada ketinggian yang menghadap sungai Yordan di dekat sumbernya. Wilayah yang berdekatan kaya pertanian, dan pemandangan dan pasokan air sangat baik. Abel-Maim, "padang rumput air," bukan merupakan sebutan yang tepat untuk itu.
a'-bel-beth-ma'-a-ka ('abhel beth ma`akhah : padang rumput rumah Maakha): nama ini muncul dalam bentuk ini dalam 1 Raja-raja 15:20 2 Raja-raja 15:29 dan dalam 2 Samuel 20:15 ( dalam bahasa Ibrani). Inilah Abel-Bet-hammaacah (Maakha sebagai kata sandang untuk tempat). Dalam 2 Samuel 20:14 muncul sebagai Bet-Maakha, dan dalam ayat 20:14 dan 18 sebagai Abel. Dalam 2 Samuel ini diucapkan sebagai kota, jauh ke utara, di mana Yoab mengepung Seba, anak Bichri. Dalam 2 Raja-raja itu disebutkan, bersama dengan Iyon dan tempat-tempat lain, sebagai kota di Naftali ditangkap oleh Tiglathpileser, raja Asyur. Menangkap muncul juga dalam catatan Tiglat Pileser.
Dalam 1 Raja-raja itu disebutkan tentang kota Iyon dan Dan dan "seluruh tanah Naftali" sebagai dipukul oleh Benhadad dari Damaskus pada jaman Baasha. Dalam 2 Tawarikh 16: 4 catatan yang menjadi parallel kisah itu kota-kota yang disebutkan adalah Iyon, Dan, Abel-Maim. Abel-Maim baik nama lain untuk Abel-Bet Maakha, atau nama tempat lain di sekitar yang sama. Identifikasi berlaku Abel-Bet-Maakha adalah dengan Abil, beberapa mil ke barat dari Dan, pada ketinggian yang menghadap sungai Yordan di dekat sumbernya. Wilayah yang berdekatan kaya pertanian, dan pemandangan dan pasokan air sangat baik. Abel-Maim, "padang rumput air," bukan merupakan sebutan yang tepat untuk itu.
Image
Kota ini juga benar-benar cocok menggambarkan kisah Quran tentang ratu Sheba yang mengunjungi Salomo / Sulaeman. Orang Ibrani menyebutnya “Wanita Bijaksana dari Abel-beth Macaah” sebagai wanita yang membunuh raja Sheba untuk menyelamatkan kota.
Kisah dalam Islampun tentang wanita ini membingungkan, karena Quran menyebutkan ratu Sheba dalam pemandangan Sulaeman (Q.27)!
Sangatlah mungkin jika pahlawan wanita ini nantinya dianggap sebagai sosok legendaris “ Ratu dari Shebah”
Tidak lama setelah Raja Daud memadamkan pemberontakan Absalom, putranya, ketika muncullah seorang dari suku Benyamin bernama Sheba memimpin pemberontakan terhadap diri Daud. Orang-orang Israel memberontak terhadap Daud dan mengikuti Seba, tapi orang-orang Yehuda tetap setia kepada raja. Setelah menyadari bahwa Sheba merupakan ancaman lebih besar daripada Absalom, Daud memerintahkan Abisai untuk memimpin pasukannya untuk menangkap Sheba. Pasukan Yoab berangkat dari Yerusalem untuk menangkap Sheba. Dalam mengejar pria ini pasukan Yoab bergerak ke sebelah utara wilayah Israel, ke sebuah kota bernama Abel-Bet-Maakha. Beberapa versi bahasa Inggris menggunakan Abel Bet Maakha, atau varian yang serupa. Pada jaman Israel modern, kota ini hampir di perbatasan dengan Lebanon antara Kiryat Shmona dan Metulla.
Inilah tempat suci yang disebutkan dalam Al Quran QS 3:96-97 - Abel Beth Maacah. Bukan Mekkah di Hijaz, Arab Saudi !
Image
Foto kami, mengarah ke Timur, memperlihatkan gundukan besar yang diperkirakan sebagai tempat Abel-Beth-Maakah pada jaman itu. Pohon apel tumbuh di daerah ini. Di hari yang cerah kita akan bisa melihat Lembah Beeka)
Jadi Abel Beth Maacah dan Lembah Beka'a di Lebanon hanya beberapa mil saja jauhnya !
Di sini, saya juga akan menunjukkan juga bahwa pengungkapan kota Hurrian di Urkesh (atau Urkish) harus benar-benar membentuk kembali pemahaman kita tentang perjalanan Abraham dari Ur Kasdim HaI ini demikian benar-benar mempertimbangkan kembali asal-usul dalam perspektif yang jauh lebih tajam dari pada kisah dalam Alkitab!
Image
Semuanya hampir terlupakan oleh sejarah, asal muasal mereka tetap tidak jelas, tetapi penggalian yang dipimpin oleh suami-istri arkeolog UCLA Georgio Buccellati dan Marilyn Kelly-Buccellati selama seperempat abad terakhir mengungkapkan bahwa Hurrians jauh lebih dari sekadar suku berkeliaran kepayahan di Timur Tengah. Dan selama musim tahun lalu, mereka menemukan bukti kuat bahwa peradaban bangsa Hurrians tidak hanya sangat mempengaruhi bahasa, budaya, dan agama-agama di jaman-jaman kemudian, tetapi juga mungkin juga telah hadir 1000 tahun sebelum masa dimana mereka pernah diperkirakan hidup - seperti juga Mesopotamia, di dekatnya, yang mulai menciptakan kota-kota pertama. (...) Piotr Michaelowski, seorang Assyriologist (ahli dalam masalah Syria kunoa) di University of Michigan, mencatat bahwa bahasa Hurrian, seperti Sumeria, adalah bahasa Semitik yang tidak terkait dengan akar bahasa Indo-Eropa yang mendominasi wilayah ini selama dan setelah milenium ketiga SM. Mungkin, ia menyarankan, para Hurrians adalah penduduk awal wilayah tersebut, seperti juga bangsa Sumeria, yang harus membuat ruang bagi orang-orang berbahasa Semit yang menciptakan kerajaan pertama di dunia berbasis di Akkad di pusat Mesopotamia sekitar 2350 SM.
Penemuan sebuah kota canggih dengan arsitektur monumental, pipa, hiasan batu yang monumental, dan populasi besar bertentangan dengan gagasan bahwa Hurrians adalah orang-orang gunung yang berkeliaran di negeri asing. Jauh dari sangkaan sebagai suku nomaden kasar, seperti orang Amori atau Kassites yang terlambat ke pesta Mesopotamia, bangsa Hurrians dengan bahasa mereka yang unik, musik, dewa-dewi, dan ritualnya mungkin telah memainkan peran penting dalam membentuk kota pertama, kerajaan, dan negara. Bahasa mereka telah punah, musik mereka memudar, dan ritual dilupakan. Namun berkat pematung, tukang batu, dan pemahat batu di Urkesh, kreativitas Hurrian dapat bersinar lagi.
(akhir dari bab 3)

Sumber: ( http://islamsejarah.blogspot.com/2011/09/muhammad-mitos-atau-fakta-sejarah-bab-3.html)

Read More..

Muhammad : Mitos atau Fakta Sejarah ? Bab 2

Bab 2 KAPAN MEKKAH ADA ?

by Badra Naya on Tuesday, July 12, 2011 at 2:52am

Banyak sarjana Barat, khususnya Patricia Crone dalam bukunya - Meccan Trade And The Rise of Islam ( Perdagangan Mekah Dan Kebangkitan Islam), menyelidiki asal-usul kota suci Islam ini, dan akhirnya menemukan tidak ada tempat yang dikenal sebagai Mekkah di abad 7 M, meskipun Thaif, kota terdekatnya, pernah tertulis dalam laporan-laporan bersama dengan Khaybar dan Yathrib (Madinah).

Menurut Tradisi Islam, Mekkah, yang dipimpin oleh suku terkuat 'Quraish', sudah menjadi pusat perdagangan besar serta tempat peziarahan,. Namun tidak ada satu prasasti apapun di seluruh Arab yang ditemukan sebelum Islam terbentuk di awal abad ke-8 untuk menyokong klaim-klaim tersebut. Hal semacam itu diberikan dalam prasasti yang ditemukan di seluruh Saudi, sebelum Islam mapan, di awal abad ke-8. Kita telah melihat dalam prasasti Abrahah bahwa tidak ada apapun yang menyebutkan Mekkah, atau Quraisy, jika tempat dan suku itu benar-benar ada dan berpengaruh.

Quran tidak pernah menyebutkan kata ‘Mekkah’ dengan nama kecuali dalam QS 48:24 yang konon merupakan surah yang diturunkan di Madinah di tahun-tahun belakangan (surah ke-111), jadi saya bertanya-tanya. Namun berkat situs Koran-Only, jawabannya ditemukan . Pelafalan MK ata MKK bukan berarti suatu kota, melainkan kata dalam bahasa Arab yang berarti penghancuran / kehancuran, sama sekali runtuh.

Mari kita lihat kutipan yang luar biasa ini: http://www.free-minds.org/language 

Makka(t) atau Mekkah 

Tidaklah mengherankan jika prasasti Abrahah tidak menyebutkan atau bahkan menyinggung sebuah kota bernama Makka (t). Sama sekali tidak ada bukti tentang sebuah kota bernama Makka (t) yang melatar-belakangi cerita pewahyuan besar dari Jibril kepada Muhammad. Bahkan semua pengkaji setuju bahwa nama Maka (t) tidak pernah muncul dalam naskah pra-quran manapun.

Mereka yang mempromosikan historisitas Mekah dipaksa untuk membawa referensi satu-satunya dari Ptolmey (sejarawan Romawi) tentang sebuah kota dengan nama Macoraba dan bukan Makka, untuk satu alasan sederhana yang mereka tahu betul bahwa sama sekali tidak ada referensi yang dianggap penting tentang kota Makka. Fakta bahwa ada kota-kota yang kurang begitu penting dibanding Mekkah namun tertulis dalam prasasti Raja Abraha, membuat kita bertanya mengapa kota Mekkah, yang konon begitu penting, tidak pernah muncul dalam prasasti itu.

Menurut kamus bahasa Arab klasik, kata "Maka (t)" utamanya berarti "penghancuran / luruh”. Hal ini tercantum dalam kamus bahasa Arab klasik baik itu dengan kata dasar MKK atau MK. Al-Mohit menuliskannya dengan kata ‘MKK’, dan arti yang diberikannya adalah kehancuran dan luruh, yang konsisten dengan konteks suatu kebuntuan di QS 48:24. Ia juga mendaftarkan arti lain dari MKK sebagai : ‘desakan musuh terhadap sesuatu’, yang juga konsisten dengan suasana penyanderaan seperti yang dilukiskan dalam QS 48:24.

Lisan Al-Arab mendaftarkan MK dan makna MK (t) sebagai "kehancuran" dan TMK sebagai "menghancurkan". Al-Wasit mendaftar MK, dengan makna : (bumi) mengisap semuanya, meneguhkan arti dari “balas dendam dari musuh”, dan hal semua benda dihancurkan. Al-Ghani mendaftarkan makna kata MKK sebagai : (bumi) menghisap, bersikeras dengan tuntutan pada musuh.

Berikut adalah terjemahan dari QS 48:24 dengan menggunakan kamus-kamus Klasik dan konteks perang dari ayat-ayat untuk menerjemahkan deskripsi umum "Makka(t)":  
And it is He Who has restrained their hands from you and your hands from them in the midst of destruction after that He gave you the victory over them. And Allah sees well all that ye do.”

terjemahan bahasa indonesia :
''Dan Dialah yang telah menahan tangan mereka dari kalian dan tangan kalian dari mereka di tengah-tengah kehancuran setelah itu Ia memberi kalian kemenangan atas mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan''
Saya menggunakan terjemahan Yusuf Ali tapi sementara dia meninggalkan kata “Makka (t)” tetap tidak diterjemahkan, saya justru menerjemahkan artinya. Seperti yang anda dapat dilihat, makna bahasa Arab klasik jelas cocok dalam konteks kebuntuan militer di QS 48:24.

Berdasarkan konteks dari Quran, bukti linguistik dari kamus bahasa Arab, dan tidak adanya bukti yang mendukung bahwa ada kota "pra-Quranik" kota dengan nama Maka (t), satu-satunya kesimpulan logis berisi adalah bahwa "Maka (t)" bukan nama kota "pra-Quran", tapi hanyalah sebuah kata benda umum biasa ( yang menyatakan suatu kehancuran, keluruhan) seperti ribuan kata benda lain dalam Quran.

Sekarang artikel di bawah ini, yang saya ambil dari web yang sama di atas, membahas tentang Kaabah, atau juga Kaaba dan Kaaba(t) yang konon berada di kota ‘Mekkah’ .

Kaabah

Benar-benar tidak ada bukti secuilpun tentang sebuah kuil "pra-Quran" yang disebut Kaa'bah (t). Ada banyak kuil-kuil suci sebelum jaman Quran , namun tak satupun disebutkan tentang Kaabah di Mekkah dalam ribuan inskripsi di kuil-kuil tersebut atau sekitarnya. Bahkan, nama Kaa'bah (t) tidak ditemukan dalam manuskrip dan inskripsi pra-Quran.

Kita tahu bahwa pada jaman "pra-Quran" orang-orang Arab memuja berhala bernama Allat, Aluzza, dan Manwat (lihat QS 53: 19-20) . Mereka semua adalah berhala Nabatea. Sementara orang-orang Yunani-Romawi selalu menghadirkan dewa-dewi mereka dengan bentuk manusia, kaum Nabataean mencitrakan dewa-dewi mereka dengan bentuk-bentuk geometris seperti blok batu persegi, meteorit suci, atau bentuk-bentuk persegi yang diukir ke dalam dinding batu dan kadang-kadang ditingkatkan dengan gambar mata dan hidung. Sumber-sumber sejarah, seperti Leksikon Suda, menyatakan bahwa patung berhala Nabatea Dhu al-Shaara adalah bangunan batu persegi hitam polos (unworked square black stone). Maximus dari Tirus pada abad ke-2 ,dalam bukunya Philosophoumena, berkomentar bahwa orang Arab memiliki patung-patung berupa batu persegi. Ada bukti arkeologis yang melimpah bahwa batu batu seperti yang ada di kota saat ini disebut Makka (t) yang tingginya sedikit lebih panjang dari ukuran dimensi lain yang adalah representasi dari berhala Dhu Al-Shaara. Gambar di bawah ini menggambarkan beberapa bukti arkeologi di Utara Saudi dan Nabatea pos terdepan.

Image Image

Perhatikan bahwa blok batu di sebelah kanan bertuliskan kata "Dusari", yaitu bahasa Latin dari Dhu al-Shaara . Nama Ka'bah (t) tidak pernah ditemukan pada atau berhubungan dengan salah satu kuil berbentuk kubus "pra-Quran" milik bangsa Arab. Di sisi lain kita melihat bahwa nama Dhu Al-Shaara dikaitkan dengan batu tersebut. Hal ini membawa kita kepada kesimpulan bahwa dalam jaman "pra-Quran" kubus batu itu tidak bernama Ka'bah (t) tapi bernama Dhu Al-Shaara.

Pada abad keempat Masehi, Epifanius, uskup Salamis, Siprus menulis surat yang menggambarkan sekte seperti sekte Nabatea dan perayaan festival mereka atas kelahiran Dhu al-Shaara di sekitar musim dingin pada saat titik balik matahari (solstice). Sangat menarik bahwa perayaan kelahiran ini memuncak pada acara membawa keluar dari bawah bumi patung bayi laki-laki, yang dijunjung dan dan diarak tujuh kali mengelilingi ruang dalam kuil pagan. [Lihat Langdon, S., Mitologi Semit, The Mitologi Semua Races, Vol. V. Boston: Arkeologi Institute of America, Marshall Perusahaan Jones, 1931, halaman 19]

Dengan mengubah nama Dhu al-Shaara menjadi Ka'bah, kaum pagan telah berhasil melanjutkan praktek berputar tujuh kali mengelilingi Dhu Al-Shaara sampai hari ini, di balik topeng ritual ‘mengikuti petunjuk Quran ’ (penerjemah : praktek Thawaf dalam ritual haji).

Seperti kota saat ini yang diberi nama Makka (t), kubus berhala batu itu pun diberi nama baru, dari Dhu Al-Shaara menjadi Kaa'bah (t) untuk mencocokkan kata benda umum "Ka'bah (t)" dalam Qur’an. Seperti halnya "Maka (t)", yang memiliki makna yang sesuai dalam konteks QS 48:24, yakni hanya sebagai kata benda umum, (yang hanya berarti kehancuran) , Kaaba (t)" memiliki arti yang cocok dalam konteks QS 5:97.

Istilah "Ka'ab" dalam bahasa Arab digunakan untuk menggambarkan tumit / dasar sepatu. Di daerah pedesaan Utara Saudi, orang masih menggunakan istilah "Ka'ab al-wadi" untuk menunjukkan dasar lembah. Oleh karena itu, makna "Ka'bah (t) adalah" dasar ".

Arti ini sesuai dengan konteks QS 5:95 & 97:  
The God has made the base the restriction house maintenance for the people and the restriction month and the gift/guidance and the means of control so that you know that The God knows what is in the heavens and the earth and that The God is knowledgeable with everything.

Terjemahan langsung dari ayat berbahasa Inggris di atas :
Allah telah membuat dasar rumah suci - pemeliharaan bagi orang-orang, dan bulan Larangan dan dan karunia / bimbingan dan alat kontrol sehingga kalian mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi dan bahwa Allah maha mengetahui segala sesuatu.
Terjemahan menurut http://m.alquran-indonesia.com yang saya lepaskan tanda kurung penjelasannya.  
Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat bagi manusia, dan bulan Haram (had-ya, qalaid ), demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Rumah yang dimaksud di atas adalah "dasar" di mana orang dapat berkumpul dengan aman QS 2:125:
 
QS 2:125 wrote:And We made the house an assembly for the people and a safety and take from the persistence of Ibrahim a lesson and We made a covenant to Ibrahim and Ismail that cleanse my house for the passers by, and the remaining, and the humbly hearing and obeying.
Terjemahan langsung dari ayat berbahasa Inggris di atas :  
QS 2:125 wrote:Dan Kami membuat rumah tempat perkumpulan bagi rakyat dan keselamatannya dan ambillah pelajaran dari kegigihan Ibrahim dan Kami membuat perjanjian dengan Ibrahim dan Ismail yang membersihkan rumah Kami untuk para pejalan kaki, dan sisanya, dan dengan rendah hati mendengar dan taat.
Sebagai perbandingan, ayat quran QS 2:125 menurut terjemahan http://m.alquran-indonesia.com  
Dan ketika Kami menjadikan rumah itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".
(Jika kita melihat pada ayat-ayat dalam bahasa Inggris terjemahan Yusuf Ali , maka jelas bahwa kaa’ba berarti dasar, rumah dan pertemuan dimana ada mekanisme pengambilan keputusan.) Ini adalah arti alami yang tidak dipaksakan, seperti halnya dalam bahasa Inggris “House of Representatives” (Dewan Perwakilah Rakyat) adalah dasar bagi pembentukan undang-undang di mana mereka merancang dan membuat undang-undang.

Dan itu belum seberapa. Kita akan melihat sanggahan mengenai ritual Haji. Ritual Haji benar-benar merupakan penemuan sepenuhnya yang dicangkokan ke dalam Islam oleh para Tradisionalis tanpa dasar Quran sama sekali.

Membongkar Kesucian Ritual Haji

Masih dalam kutipan situs yang sama: http://www.free-minds.org/language , yang adalah hasil penelaahan seseorang yang menamakan dirinya ‘Ayman’, kita menemukan hal penjelasan tentang apa makna Haji / hajj itu sebenarnya.

Seperti yang kita lihat sebelumnya, bahasa Arab adalah bahasa orang umum dan bukan bahasa ilmiah atau bahasa agama. Jadi, setiap makna religius yang melekat pada kata dalam bahasa Arab dapat dicurigai dan patut diselidiki secara menyeluruh sebelum kita menerimanya. Dalam Quran, kita menemukan sebuah fenomena menarik. Kata dengan konotasi relijius dalam bahasa Inggris modern seperti "doa" dan "menyembah" tidak muncul sama sekali dalam Quran. Misalnya, kata “dua'a”, yang secara tradisional dipahami sebagai “doa” ( atau “pray” dalam bahasa Inggris), sebenarnya tidak memiliki konotasi relijius dan digunakan berkali-kali dalam Quran dalam penggunaan biasa yang tidak ada hubungannya dengan "doa" (misalnya, lihat QS 28:25). Oleh karena itu, yang terbaik adalah menerjemahkan kata “dua’a” ini sebagai “memanggil” dan bukan sebagai “doa”. Demikian pula, kata “abad”, yang secara tradisional dipahami sebagai “ibadah”, lebih baik dipahami sebagai “melayani” (misalnya, lihat QS 16:75, 2:221).

Istilah “dien” secara tradisional dipahami sebagai “agama”. Namun, kita dapat melihat bahwa kata ini digunakan dalam banyak hal yang berarti “kewajiban” (misalnya, lihat QS 56:86, 2:282, 4:11-12). Makna umum bahasa Arab yang non-religius dari “kewajiban” sebenarnya lebih cocok dari semua kemunculan kata "dien" dalam Quran. (lihat dalam bagian What’s In The Name http://www.free-minds.org/name )

Istilah “haji” secara tradisional dipahami sebagai “ziarah relijius”. Namun, sebuah penelitian Quran lebih dalam mengungkapkan bahwa istilah ini tidak ada hubungannya dengan ziarah keagamaan yang terorganisir. Misalnya, kita mendengar di QS 22:27:  
And announce amongst people with the debate. They will come on foot and on every kind of lean transportation. They will come through every unobstructed passage.

Terjemahan ayat dalam bahasa Inggris di atas :  
Dan umumkanlah di antara orang yang sedang dalam perdebatan. Mereka akan datang dengan berjalan kaki dan pada setiap jenis transportasi. Mereka akan datang melalui setiap bagian yang tak terhalangi.

Terjemahan menurut http://m.alquran-indonesia.com  
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh

wa-adzdzin fii alnnaasi bialhajji ya/tuuka rijaalan wa'alaa kulli daamirin ya/tiina min kulli fajjin 'amiiqin.

Dalam QS 22:27 bahwa Ibrahim mengundang orang-orang dengan ( “bi”) perdebatan ( “al-haji” atau tidak (“li”) berdebat ("al-haji") untuk membuahkan suatu manfaat.

Dengan demikian, perdebatan("haji") atau dalam artian yang lebih tepat ‘tawar –menawar’ adalah alat untuk menarik orang yang berbeda dari semua lapisan masyarakat. Kita hanya bisa mengundang semua orang untuk sesuatu yang bermanfaat jika ada kesepakatan dan non-diskriminatif.

Mari kita beralih ke kasus Musa dan calon mertuanya.

QS 28:27 http://m.alquran-indonesia.com  
Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik".

bahas arab latin :  
qaala innii uriidu an unkihaka ihdaa ibnatayya haatayni 'alaa an ta/juranii tsamaaniya hijajin fa-in atmamta 'asyran famin 'indika wamaa uriidu an asyuqqa 'alayka satajidunii in syaa-a allaahu mina alshshaalihiina

Kita diberitahu dalam QS 28:27 bahwa Musa dipekerjakan untuk bekerja selama delapan tahun “Hijaj”. Untuk dipekerjakan sebagai apa? Jelas, ia disuruh untuk bekerja mengembalakan domba (28:23-24) dan bukan untuk ziarah keagamaan. Apa kaitannya antara bekerja menggembalakan domba dengan perdebatan atau tawar menawar (H'ajj)? Tentu, orang bekerja dan menghasilkan sesuatu kesepakatan sehingga mereka bisa berdebat dan tawar-menawar dengan produk mereka. Tawar-menawar adalah semacam perdebatan untuk menghasilkan manfaat bagi si penjual dan pembeli.

Dengan demikian, perdebatan / "al-H'ajj" adalah seperti pameran tahunan di mana orang bekerja sepanjang tahun dan kemudian pergi untuk menjual dan, atau, membeli produk. Pertengahan musim panas - awal musim gugur adalah waktu alami untuk event pasar seperti itu karena saat itu produksi dan ternak berlimpah (lihat: Blind Dating versus Perfect Timing http://www.free-minds.org/timing).

Pertemuan besar perdebatan, atau tawar-menawar (H'ajj) memberikan kesempatan yang baik untuk mengingatkan orang sebanyak mungkin tentang Tuhan. Ini juga merupakan kesempatan bagi orang yang beruntung untuk menyumbang dan memberi kepada yang kurang beruntung. Hal ini dikonfirmasi oleh QS 22:28, di mana kita diberitahu tentang tujuan dari debat atau tawar-menawar (H'ajj) tersebut:
So that they may witness benefits for themselves and remember The God’s name in a few days over what He Has provided for them of the animal livestock. So eat from it and feed the needy and the poor. Then they would complete their duties and fulfill their vows, and would pass by the freeing house.

Terjemahan dari ayat berbahasa Inggris di atas:
Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan mengingat nama Allah pada hari yang sedikit itu atas apa yang Ia telah sediakan bagi mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan berikanlah untuk makanan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian mereka akan memenuhi kewajiban mereka dan menggenapi nazar mereka, dan melewati rumah yang membebaskan.
supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu.
Rumah yang disucikan (restricted house) hanyalah tempat di mana orang berkumpul dengan aman dan berdebat, atau tawar-menawar, tanpa takut penindasan. Rumah yang disucikan ini membantu menyebarkan pembebasan karena orang-orang tertindas yang datang ke sana bisa mengalami pengalaman debat dalam lingkungan yang terbebas dari penindasan, (penerjemah : ingat karena pada jaman itu perbudakan manusia sangat umum) dan mereka mengambil pengalaman yang bersama untuk disebarkan dalam komunitas mereka sendiri. Debat merupakan proses penting untuk akuntabilitas dan penyebaran ide-ide terbaik dalam masyarakat bebas. Dengan demikian, konsep debat, atau tawar-menawar ("haji") tidak ada hubungannya dengan ziarah keagamaan khusus. Ini adalah konsep yang sama sekali umum.

Sekarang kita ditinggalkan dengan fakta-fakta yang meluluh-lantakan: 

  1. tanpa kejelasan tentang Tahun Gajah (tahun 552 M, bukan 570 M menurt Tradisi Islam) untuk menentukan kelahiran Muhammad.
  2. tanpa kota suci di abad ke-7 (kata ‘MK(t)’ berarti kehancuran di QS 48:24), dan tanpa Kabah seperti yang digambarkan oleh Tradisi Islam.
  3. lebih dari itu, ibadah haji adalah istilah umum dalam bahasa Arab untuk ‘berdebat, atau tawar-menawar’, tidak ada hubungannya dengan tempat Ritual Haji yang terkenal itu.

Sepertinya umat Muslim telah tertipu dari awal. Tapi kemudian bagaimana dengan Muhammad historis? Apakah ia benar-benar pernah ada? Jika dia memang pernah ada, dari mana ia paling mungkin berasal kalau bukan dari 'Mekkah' ? Quran berbicara tentang Bekka di QS 3:96 sebagai tempat perlindungan awal dari semua orang 
percaya. Kita akan melihat itu dan banyak hal lainnya di bagian berikutnya

(sumber:http://islamsejarah.blogspot.com/2011/09/muhammad-mitos-atau-fakta-sejarah-bab-2.html) 

Read More..

MUHAMMAD: MITOS ATAU FAKTA SEJARAH? (BAB 1)

Bab 1 TAHUN GAJAH

Tradisi Islam mengatakan bahwa Muhammad lahir di Tahun Gajah, yaitu tahun 570 M. Kejadian kelahirannya berkaitan dengan invasi Arab Selatan oleh Raja Abraha yang berbaris ke Mekkah, gajahnya (bernama 'Mahmud') menolak untuk memasuki kota, agar tidak membahayakan Kaabah !
Kejadian ini tercatat dalam QS 105 : 1-5
QS 105 : 1-5 wrote:1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah ?
2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?,
3. dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,
4. yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
5. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Lihat juga tentang Raja Abraha :

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Abraha
  2. http://www.muhammadanreality.com/yearelephant.htm

Namun ternyata kisah tersebut hanyalah mitos belaka, sebab kita menemukan sebuah prasasti yang melemahkan klaim Islam tentang serbuan Raja Abrahah ke Mekkah yang gagal di tahun 570 M. Bahkan tidak pernah tercatat ada kota bernama Mekkah yang ia coba tundukkan. Sejarah mencatat bahwa Raja Abrahah berhasil menundukan Arab Utara pada tahun 552, bukannya kalah seperti yang dicatat oleh Quran. Lihatlah bukti prasasti ini, saya sertakan teks bahasa Inggrisnya :

Image

Prasasti ini tertanggal 552 M dan tertulis :
"With the power of the Almighty, and His Messiah King Abraha Zeebman, the King of Saba'a, Zuridan, and Hadrmaut and Yemen and the tribes (on) the mountains and the coast wrote these lines on his battle against the tribe of Ma'ad (in) the battle of al-Rabiya in the month of "Dhu al Thabithan" and fought all of Bani A'amir and appointed the King Abi Jabar with Kinda and Al, Bishar bin Hasan with Sa'ad, Murad, and Hadarmaut in front of the army against Bani Amir of Kinda. and Al in Zu Markh valley and Murad and Sa'ad in Manha valley on the way to Turban and killed and captured and took the booty in large quantities and the King and fought at Halban and reached Ma'ad and took booty and prisoners, and after that, conquered Omro bin al-Munzir. (Abraha) appointed the son (of Omro) as the ruler and returned from Hal Ban (halban) with the power of the Almighty in the month of Zu A'allan in the year sixty-two and six hundred."


Terjemahan Indonesia :

"Dengan kekuatan dari Yang Maha Kuasa dan Mesias-Nya, Raja Abrahah Zeebman, Raja Saba'a, Zuridan, dan Hadrmaut dan Yaman dan suku-suku (di) pegunungan dan pantai menulis baris-baris prasasti ini pada pertempuran melawan suku Ma 'ad (dalam) pertempuran al-Rabiya pada bulan "Dhu al Thabithan" dan berjuang semua Bani A'amir dan mengangkat Raja Abi Jabar dengan Kinda dan Al bin, Bishar Hasan dengan Sa'ad, Murad, dan Hadarmaut di depan tentara melawan Bani Amir Agak dan Al di lembah Zu Markh dan Murad. dan Sa'ad di lembah Manha dalam perjalanan ke Turban dan membunuh dan menangkap dan mengambil jarahan dalam jumlah besar dan Raja dan bertempur di Halban dan mencapai Ma'ad dan mengambil jarahan dan narapidana, dan setelah itu, menaklukkan Omro bin al-Munzir. (Abrahah) mengangkat anak (dari Omro) sebagai penguasa dan kembali dari Hal Ban (halban) dengan kekuatan Mahakuasa dalam bulan Zu A'allan di tahun enam puluh dua dan enam ratus. Pent - (penanggalan mereka) "

Saya kutip dari : http://free-minds.org/forum/index.php?topic=9389.0;wap2

Kita semua melihat dengan jelas bahwa ekspedisi Abraha ini dijelaskan secara rinci dan bertentangan dengan dongeng yang kita dengar dari Ibnu Ishaq dan para tradisionalis. Sama sekali tidak ada penyebutan apapun yang berhubungan dengan Ka'bah atau Mekah. Prasasti itu tidak menyebutkan gajah. Mengingat fakta bahwa membawa gajah ke padang gurun adalah sangat tidak praktis, yang berarti harus membawa banyak cadangan air di tubuhnya. Jadi jelas Abrahah tidak menunggang gajah.

Seperti yang kita lihat bahwa kisah Raja Abrahah adalah kisah kegemilangan, yang berarti kisah kekalahan bagi bangsa Arab. Namun sebaliknya cerita desas-desus dari orang-orang seperti Ibnu Ishaq diisi dengan rincian menakjubkan, ketegangan, dan drama kemenangan bagi Arab. Mereka menangkap imajinasi orang dengan detail yang luar biasa dari karakter seorang pria tua lemah (tokoh fiktif - Abdul Muthalib) yang berdiri di tengah-tengah barisan Tentara Abrahah. Cerita-cerita fiksi ini memiliki detil menakjubkan tentang gajah dan kutukan pada tentara raja Abrahah sehingga mereka jatuh dll.

Cerita desas-desus yang dikarang kaum Arab 200 tahun setelah kejadian faktualnya memang memiliki nilai hiburan yang sangat tinggi dan menarik massa seperti halnya film-film Hollywood, namun sama sekali tidak memiliki nilai bagi mereka yang tertarik pada kebenaran sejarah.

Sebagai catatan tambahan, tanggal prasasti itu ketika dikonversi setara dengan tahun 552 M. Menurut kisah tradisi muslim, yaitu Sirat Nabi, Muhammad lahir pada tahun 570 M bertepatan dengan ekspedisi Raja Abrahah. Berarti ada rentang 20 tahun ketidak-sesuaian antara fakta sejarah dengan Tradisi Islam.

Fakta ini tentu saja menciptakan masalah besar bagi para tradisionalis. Sekarang mereka harus merevisi seluruh Sirat / kisah nabi, atau mereka harus membuang semua Hadis mereka untuk satu alasan logis yang sederhana, yaitu semua angka penanggalan harus dikurangi 20 tahun agar sesuai dengan fakta sejarah.

Tambahan pendalaman tentang Tahun Gajah dan Surah 105
diambil dari : http://www.free-minds.org/petra

Untuk menegaskan legitimasi mereka, Bani Hasyim, yang darinya akan menjadi Dinasti Abbasiyah, mulai mempromosikan kemenangan kaum Arab yang dipimpin oleh Abdul Muthalib melawan Abraha ... Dinasti Abbasiyah secara resmi mendasarkan klaim leluhur mereka dari keturunan Abbas bin Abd al-Muththalib. Klaim ini saja sudah merupakan indikasi yang jelas mengapa mereka cenderung mempromosikan cerita kemenangan seperti ini.

Sebuah catatan yang sangat membingungkan dalam penaklukan Muslim awal adalah bahwa pertempuran Qadisiyyah. Ini adalah pertempuran kaum Muslimin melawan Sassanid / Pehlavi kekuatan di 636 M. Gajah-gajah yang ditunggangi tentara Persia membuat kavaleri Arab ketakutan, dan berhasil menciptakan kebingungan massa di antara pejuang Arab selama dua hari berturut-turut. Pada hari ketiga pertempuran, tentara Muslim berhasil menakut-nakuti gajah Persia melalui berbagai trik improvisasi. Ketika seorang prajurit Arab berhasil membunuh gajah pemimpin, sisanya melarikan diri dan menginjak-injak tentara musuh. Orang-orang Arab terus maju melancarkan serangan pada malam hari. (...) Mengapa tampaknya tentara Arab ketakutan dalam pertempuran itu, bukankah peperangan melawan gajah, konon, bukan pertama kali bagi bangsa Arab? (...)

Membayangkan gajah-gajah digunakan dalam peperangan, apalagi mereka harus memakan berton-ton daun setelah berjalan setiap mil-nya, selanjutnya, mereka harus tinggal di tempat teduh atau di kolam air, dan bahkan menuangkan lumpur pada dirinya sendiri untuk tetap tenang, maka padang pasir yang panas terik hampir tidak mungkin untuk menggunakan gajah. Bahkan gajah-gajah gurun Afrika akan cenderung menolak berjalan di tempat semacam itu.

Jika Abraha menggunakan gajah dalam ekspedisinya, bisakah mereka bertahan dalam kondisi cuaca yang keras di gurun Arab? Sederhananya, dengan membawa gajah membuat jalan mereka dari Yaman ke Mekah akan menjadi perjuangan yang berat mengingat kondisi alam yang keras, lagi pula dengan tidak adanya menyinggung adanya gajah pada prasasti tersebut menjadi indikator penting bahwa tidak ada gajah yang digunakan.

Selain itu, ekspedisi oleh Abrahah berakhir dengan kemenangan dan ia kembali ke ibukotanya sesuai dengan prasasti. Ini hampir dua dekade sebelum tahun yang di duga sebagai “Tahun Gajah”. Tidak ada penyebutan tentang ekspedisi kedua dalam kisah sejarah mereka, yang berarti dia harus bertempur dan mengalahkan setiap suku Arab yang ia lewati dalam ekspedisinya. Selanjutnya, disimpulkan bahwa jika memang orang-orang Mekkah bererperang Abrahah di Mekah, mereka dapat diyakini menderita kekalahan dari Abraha. Prasasti di atas adalah bukti tak terbantahkan yang akan membuat tulang punggung para tradisionalis menggigil kedinginan. Lebih jauh lagi, Surah 105 berbicara tentang "Orang-orang Gajah" dan tentu saja bukan tentara Abraha.

Saya tambahkan di bawah ini satu kutipan lagi (dengan editing untuk menyingkat bacaan kita).
http://www.answering-islam.org/Response ... man_av.htm

Sebuah masalah yang jauh lebih besar bagi tradisi Islam adalah penanggalan Sabean pada prasasti ini adalah 552 M. Menurut catatan para sejarawan, Raja Abraha meninggal pada tahun 553 M atau segera sesudahnya - tetapi, menurut Muslim, Muhammad lahir tahun 570 M. Jadi, jika kita masih ingin tetap mempercayai Tradisi Islam tentang Abraha, maka kita harus mendorong kembali kelahiran Muhammad 15, 16 atau bahkan 18 tahun dari tahun yang selama ini dipercaya benar oleh Tradisi Islam. Hal ini memiliki konsekuensi yang sangat besar untuk sebagian besar sejarah Islam awal. Jika Muhammad lahir 18 tahun sebelumnya, kapan Muhammad mulai menerima wahyu? Kapan Hijrah terjadi? Kapan Muhammad mati? Kapan berbagai pertempuran terjadi, dan kapan pemerintahan pertama empat khalifah? Hal ini berpotensi mengacaukan segala sesuatu yang Muslim percaya tentang sejarah awal mereka.

Selain itu, fakta ini menghasilkan keraguan yang serius atas banyak kisah dari Tradisi Islam. Akurasi dari apa yang mereka sebut Hadis "Sahih" tidak dapat dipercaya lagi sebab "rantai transmisi" itu mungkin telah rusak - peristiwa yang paling penting dalam kehidupan Muhammad telah harus didorong kembali 18 tahun dari penanggalan sebelumnya dan ada jurang kesenjangan untuk membuka tabir rantai transmisi antara Muhammad dengan jaman dimana pengumpul hadis seperti Bukhari, Muslim, dan kolektor lainnya hidup. (…..)

Muhammad ibn al-Sa'ib (meninggal 726 M) mengatakan bahwa Muhammad lahir 15 tahun sebelum "Tahun Gajah". Ja'far bin Abi 'l-Mughira (meninggal awal abad Masehi 8) memperkirakan Muhammad lahir 10 tahun setelah "Tahun Gajah", sedangkan Al-Kalbi mengatakan kepada kita bahwa Shu'ayb ibn Ishaq (meninggal 805 M) mengatakan bahwa Muhammad lahir 23 tahun setelah kejadian ini. Al-Zuhri (meninggal 742 M) percaya bahwa Muhammad lahir 30 tahun setelah "Tahun Gajah", sementara Musa bin 'Uqba (meninggal 758) percaya bahwa Muhammad lahir 70 tahun kemudian ! Jika kita mengasumsikan bahwa Tahun Gajah adalah 570 M, maka Muhammad bisa saja lahir kapan saja antara 555 M sampai dengan 640 M, dan bisa mati kapan saja antara 615 M dan 700 M! Bagaimana kita bisa percaya salah satu dari hadist ? Para penerima transmisi kisah itu / Isnad, seperti yang dikutip oleh hadist, tidak mungkin hidup sejaman dengan Muhammad, untuk menyaksikan benar tidaknya peristiwa yang konon mereka terima dari orang lain. Masalah penanggalan tahun lahir Muhammad merupakan masalah yang tidak hanya mempengaruhi tradisi hadis, tetapi juga mempengaruhi validitas seluruh sejarah koleksi Quran dan kompilasinya.

Untuk itu, jika Tahun Gajah tertanggal 552 M, maka seluruh catatan dalam Tradisi Islam tentang Muhammad (570 – 632 M) hancur luruh berantakan. Semua Hadits dan Sirah Nabi, seluruh rantai transmisi lisan akan tergelincir dan usang !

Sumber: (http://islamsejarah.blogspot.com/2011/09/muhammad-mitos-atau-fakta-sejarah-bab-1.html)

Read More..

HARI KEBANGKITAN MANUSIA





 Hudzaifah meriwayatkan, katanya rosulullah bersabda: "akan hancur islam ini seperti hancurnya kain yang telah usang, sehingga tidak diketahui orang lagi apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu ibadah haji, dan apa itu zakat. dan diterbangkanlah kitab Allah {Al~Qur'an} pada suatu malam, sehingga tidak ada lagi yang tinggal di bumi satu ayat pun, dan tinggalah beberapa golongan manusia laki laki dan wanita yang telah berusia lanjut dan lemah, yang berkata, "kami dapati bapak bapak kami dahulu mengucapkan kalimat ini: laa ilaaha illallah, maka kami mengucapkan kalimat ini".maka shilat [salah seorang perawi hadis ini] bertanya kepada hudzaifah, "apa gunanya laa ilaaha illallah kalau mereka tidak tau lagi apa itu shalat, apa itu puasa, apa itu haji, dan apa itu zakat? lalu hudzaifah berpaling tidak menjawabnya. kemudian shilat menayakannya lagi sampai tiga kali, dan hudzaifah menjawab: "wahai shilat, kalimat laa ilaaha illallah ini akan dapat menyelamatkanya dari neraka". demikian di ucapkan oleh hudzaifah sebanyak tiga kali.[1]

Read More..

ORTODOXA, HETERODOXA, PARADOXA

Mungkin kita pernah menemukan istilah Ortodoxa, Heterodoxa, dan Paradoxa. Ada lagi?

1. ORTODOXA merupakan sebuah kata majemuk dan berasal dari dua kata bahasa Yunani: orthos ("benar") dan dokein ("pikiran", "ajaran" atau "pendapat"). Ortodoksi dalam sebuah ajaran agama artinya adalah "ajaran yang benar", namun biasanya hal ini diartikan sebagai "ajaran yang lama", "ajaran yang kuno" atau "ajaran yang fundamentalis".

2. HETERODOXA Artinya menyimpang dari kepercayaan resmi atau “menyimpang”, dan malahan merupakan oposisi dari mainstream (arus utama). Heterodox itu muncul dari ultra ortodox atau varian dari berbagai macam ortotodox yg satu sama lain bisa mengklaim bahwa si A adalah ortodox dan yg lain adalah Heteredox.

3. PARADOXA adalah bentuk awal dari kata ini muncul dalam bahasa Latin paradoxum dan berhubungan dengan bahasa Yunani paradoxon. Kata ini terdiri dari preposisi para yang berarti "dengan cara", atau "menurut" digabungkan dengan nama benda doxa, yang berarti "apa yang diterima".

Sebuah 'paradoks adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil yang membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau "premis"nya tidak sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul). Pengenalan ambiguitas, equivocation, dan perkiraan yang tak diutarakan di paradoks yang dikenal sering kali menuju ke peningkatan dalam sains, filsafat, dan matematika.

Kata paradoks seringkali digunakan dengan kontradiksi, tetapi sebuah kontradiksi oleh definisi tidak dapat benar, banyak paradoks dapat memiliki sebuah jawaban, meskipun banyak yang tetap tak terpecahkan, atau hanya terpecahkan dengan perdebatan

Saya coba gambarkan ketiga istilah ini dalam berkeyakinan. Saya ambil salah satu contoh agama Islam mempunyai varian, sekte, aliran yg sangat banyak, seperti Sunni, Syiah. Dari setiap varian mengklaim sebagai Ortodox/Fundamental yg memberikan argumen2 bahwa salah satu darinya adalah ajaran yg murni, original, langsung dari sumbernya. Ia menggambarkan posisinya sendiri sebagai yang ortodoks (dari ortho- "lurus" + doxa "pemikiran, ajaran") dan posisinya akhirnya berkembang menjadi posisi Islam Salafussholihin/ahlu sunnah waljamaa/fundamental, dari mana kata-kata ortodoks itu berasal.

Sunni akan mengklaim bahwa ajarannya adalah ajaran yg ortodoks, sedangkan Syiah sudah menyimpang, begitu pula sebaliknya. Dari sini dapat disimpulkan Syiah bagi Sunni adalah HETERODOX, dan Sunni bagi Syiah pun HETERODOX. Istilah Heterodox dalam Islam disebut KAFIR yg mempunyai arti yg sama yaitu ingkar atau menyimpang.

Jadi, ada anggapan bahwa heterodox/KAFIR tidak mempunyai arti yang sepenuhnya obyektif. Kategori ini hanya ada sebagai kebalikan dari posisi suatu sekte yang sebelumnya telah didefinisikan sebagai "ortodoks". Jadi, setiap pandangan yang non konformis di dalam bidang apapun juga dapat dianggap "KAFIR" (HETERODOKS) oleh yang lainnya di dalam bidang tersebut yang yakin bahwa pandangan mereka adalah yang "benar" (ortodoks).

Para penyesat (takfiriyah) biasanya tidak menganggap keyakinan mereka sesat. Menyebut sebuah ajaran itu "sesat" adalah suatu penghakiman yang tidak bebas nilai, karena hal itu dilakukan dari dalam suatu sistem kepercayaan yang mapan. Misalnya, menurut MUI, SYIAH adalah sesat, maka mereka wajib bertaubat. Bagaimana jika tidak?

Agar sebuah ajarah sesat bisa ada, pertama-tama harus ada suatu sistem dogma yang berwibawa yang ditetapkan sebagai dogma yang ortodoks, seperti misalnya yang diusulkan oleh MUI atau DEPAG dalam mengeluarkan FATWA.

Nah, bagaimana dengan PARADOXA? Yang termasuk kategori PARADOXA dimainkan oleh ISLAM MODERAT; yg kebanyakan berusaha mencari jalan tengah, padahal pada kenyataannya mereka tidak tahu atau masih kebingungan mana letak TENGAH yg sebenarnya, karena ujungnya pun mereka tidak tahu dimana. Sedangkan posisi mereka sebenarnya ada dalam posisi PARADOX, yaitu berusaha mengaburkan posisi mereka, dengan tujuan untuk menghindari kontra, cari selamat, cari aman.

Contoh yg biasa dilakukan Muslim MODERAT adalah seorang wanita yg mengaku beragama Islam tapi menolak POLIGAMI, paradox bukan? Seorang wanita yg beraqidah Islam yg siap mengikuti ajaran Nabinya dengan IKRAR SYAHADATAIN, justru membenci apa yg dilakukan oleh nabinya sendiri....ini sungguh terlalu. Contoh lain lagi adalah seseorang yg mendukung Negara yg tidak berlandaskan Hukum Allah atau Syariat Islam, paradox kan? Kalaupun saya harus menilai, justru muslim moderat lebih sesat dan cenderung MUNAFIK dalam aplikasinya.

So, termasuk manakah anda?

Saya punya cerita yg berjudul “Siapa Saja yang Masuk Surga?”

Ivan Iwanovitch meninggal hari Sabtu – pukul lima. Begitu juga Abdul Rahman dan Martin Christian. Bertiga mereka berjalan ke tempat hari akherat. Tidak bisa melihat siapa Iwan, siapa Abdul atau siapa Martin, karena ruh tidak ada pakaian – tidak ada raut muka. Dari jauh mereka melihat cahaya. Itulah Jesus, kata Martin, sebentar lagi kelihatan cahaya lagi, itulah Nabi Muhammad kata Abdul dan untuk ketiga kalinya dilihat warna lagi, itulah Sanctus Carolus Marx kata Ivan Iwanovitch – seorang komunis yang sejati.

Sampai akhirnya mereka melihat cahaya begitu kuat dan terang sehingga ketiga ruh dipenuhi cahaya dan kemuliaan. Hic es Deus kata Martin, Prinsip Hoffnung kata Ivan, itulah Tuhan Allah kata Abdul. Tapi yang dilihat adalah hal yang sama dan tidak ada satu orangpun diantara mereka yang masih hidup yang bisa menjelaskan apa yang dilihat tiga ruh itu.

Karena cahaya yang dilihat adalah baru, tidak ada perbandingan dan tidak ada kata yang memungkinkan melukiskan hal itu. Dan hal yang tidak dapat dipikirkan, tidak bisa dibicarakan. Dan tentang hal yang tidak bisa dibicarakan tentang hal itu, LEBIH BAIK TUTUP MULUT, kata Wittgenstein. (MAW Brouwer)

Read More..

IMAJINASI

IMAJINASI

"Imajinasi adalah sebuah kerja akal dalam mengembangkan suatu pemikiran yang lebih luas dari apa yang pernah dilihat, dengar, dan rasakan. Dengan imajinasi, manusia mengembangkan sesuatu dari kesederhanaan menjadi lebih bernilai dalam pikiran. Ia dapat mengembangkan sesuatu dari Ciptaan Tuhan dalam pikirannya. Dengan tujuan untuk mengembangkan suatu hal yang lebih bernilai dalam bentuk benda, atau sekedar pikiran yang terlintas dalam benak. Alfan Arrasuli"

IMAJINASI merupakan ruang kerja tempat dibentuknya semua rencana yang akan diciptakan oleh manusia. Melalui kemampuan untuk berimajinasi, seseorang telah menemukan dan dapat mengendalikan lebih banyak kekuatan alam. Melalui bantuan imajinasi, seseorang dapat mengalisa dan menimbang matahari dari jarak berjuta-juta kilometer, dan berhasil menetapkan unsur-unsur yang dikandungnya. Dengan imajinasi juga Manusia dapat meningkatkan kecepatan kereta api sehingga kini bisa menempuh perjalanan dengan kecepatan 600 mil per jam.

Kemampuan imajinasi berfungsi dalam dua bentuk yaitu :
1. Imajinasi sistesis
Melalui kemampuan ini, sesorang bias mengatur konsep, gagasan atau rencana lama menjadi perpaduan yang baru. Kemampuan hanya bekerja dengan bahan pengalaman, pendidikan dan pengamatan yang dilakukan. Imajinasi sintesis biasanya paling banyak digunakan oleh penemu.
2. Imajinasi kreatif
Melalui kemampuan imajinasi kreatif, pikiran manusia yang terbatas mendapatkan komunikasi langsung dengan Intelegensi tanpa batas. Melalui kemampuan inilah “firasat” dan “ilham” diterima, dan melalui imjinasi kreatif juga semua gagasan dasar atau gagasan baru diberikan kepada manusia serta seorang individu bias “menyesuaikan diri” atau berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar manusia lainnya.

Read More..