Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

HARI KEBANGKITAN MANUSIA





 Hudzaifah meriwayatkan, katanya rosulullah bersabda: "akan hancur islam ini seperti hancurnya kain yang telah usang, sehingga tidak diketahui orang lagi apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu ibadah haji, dan apa itu zakat. dan diterbangkanlah kitab Allah {Al~Qur'an} pada suatu malam, sehingga tidak ada lagi yang tinggal di bumi satu ayat pun, dan tinggalah beberapa golongan manusia laki laki dan wanita yang telah berusia lanjut dan lemah, yang berkata, "kami dapati bapak bapak kami dahulu mengucapkan kalimat ini: laa ilaaha illallah, maka kami mengucapkan kalimat ini".maka shilat [salah seorang perawi hadis ini] bertanya kepada hudzaifah, "apa gunanya laa ilaaha illallah kalau mereka tidak tau lagi apa itu shalat, apa itu puasa, apa itu haji, dan apa itu zakat? lalu hudzaifah berpaling tidak menjawabnya. kemudian shilat menayakannya lagi sampai tiga kali, dan hudzaifah menjawab: "wahai shilat, kalimat laa ilaaha illallah ini akan dapat menyelamatkanya dari neraka". demikian di ucapkan oleh hudzaifah sebanyak tiga kali.[1]

Read More..

ORTODOXA, HETERODOXA, PARADOXA

Mungkin kita pernah menemukan istilah Ortodoxa, Heterodoxa, dan Paradoxa. Ada lagi?

1. ORTODOXA merupakan sebuah kata majemuk dan berasal dari dua kata bahasa Yunani: orthos ("benar") dan dokein ("pikiran", "ajaran" atau "pendapat"). Ortodoksi dalam sebuah ajaran agama artinya adalah "ajaran yang benar", namun biasanya hal ini diartikan sebagai "ajaran yang lama", "ajaran yang kuno" atau "ajaran yang fundamentalis".

2. HETERODOXA Artinya menyimpang dari kepercayaan resmi atau “menyimpang”, dan malahan merupakan oposisi dari mainstream (arus utama). Heterodox itu muncul dari ultra ortodox atau varian dari berbagai macam ortotodox yg satu sama lain bisa mengklaim bahwa si A adalah ortodox dan yg lain adalah Heteredox.

3. PARADOXA adalah bentuk awal dari kata ini muncul dalam bahasa Latin paradoxum dan berhubungan dengan bahasa Yunani paradoxon. Kata ini terdiri dari preposisi para yang berarti "dengan cara", atau "menurut" digabungkan dengan nama benda doxa, yang berarti "apa yang diterima".

Sebuah 'paradoks adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil yang membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau "premis"nya tidak sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul). Pengenalan ambiguitas, equivocation, dan perkiraan yang tak diutarakan di paradoks yang dikenal sering kali menuju ke peningkatan dalam sains, filsafat, dan matematika.

Kata paradoks seringkali digunakan dengan kontradiksi, tetapi sebuah kontradiksi oleh definisi tidak dapat benar, banyak paradoks dapat memiliki sebuah jawaban, meskipun banyak yang tetap tak terpecahkan, atau hanya terpecahkan dengan perdebatan

Saya coba gambarkan ketiga istilah ini dalam berkeyakinan. Saya ambil salah satu contoh agama Islam mempunyai varian, sekte, aliran yg sangat banyak, seperti Sunni, Syiah. Dari setiap varian mengklaim sebagai Ortodox/Fundamental yg memberikan argumen2 bahwa salah satu darinya adalah ajaran yg murni, original, langsung dari sumbernya. Ia menggambarkan posisinya sendiri sebagai yang ortodoks (dari ortho- "lurus" + doxa "pemikiran, ajaran") dan posisinya akhirnya berkembang menjadi posisi Islam Salafussholihin/ahlu sunnah waljamaa/fundamental, dari mana kata-kata ortodoks itu berasal.

Sunni akan mengklaim bahwa ajarannya adalah ajaran yg ortodoks, sedangkan Syiah sudah menyimpang, begitu pula sebaliknya. Dari sini dapat disimpulkan Syiah bagi Sunni adalah HETERODOX, dan Sunni bagi Syiah pun HETERODOX. Istilah Heterodox dalam Islam disebut KAFIR yg mempunyai arti yg sama yaitu ingkar atau menyimpang.

Jadi, ada anggapan bahwa heterodox/KAFIR tidak mempunyai arti yang sepenuhnya obyektif. Kategori ini hanya ada sebagai kebalikan dari posisi suatu sekte yang sebelumnya telah didefinisikan sebagai "ortodoks". Jadi, setiap pandangan yang non konformis di dalam bidang apapun juga dapat dianggap "KAFIR" (HETERODOKS) oleh yang lainnya di dalam bidang tersebut yang yakin bahwa pandangan mereka adalah yang "benar" (ortodoks).

Para penyesat (takfiriyah) biasanya tidak menganggap keyakinan mereka sesat. Menyebut sebuah ajaran itu "sesat" adalah suatu penghakiman yang tidak bebas nilai, karena hal itu dilakukan dari dalam suatu sistem kepercayaan yang mapan. Misalnya, menurut MUI, SYIAH adalah sesat, maka mereka wajib bertaubat. Bagaimana jika tidak?

Agar sebuah ajarah sesat bisa ada, pertama-tama harus ada suatu sistem dogma yang berwibawa yang ditetapkan sebagai dogma yang ortodoks, seperti misalnya yang diusulkan oleh MUI atau DEPAG dalam mengeluarkan FATWA.

Nah, bagaimana dengan PARADOXA? Yang termasuk kategori PARADOXA dimainkan oleh ISLAM MODERAT; yg kebanyakan berusaha mencari jalan tengah, padahal pada kenyataannya mereka tidak tahu atau masih kebingungan mana letak TENGAH yg sebenarnya, karena ujungnya pun mereka tidak tahu dimana. Sedangkan posisi mereka sebenarnya ada dalam posisi PARADOX, yaitu berusaha mengaburkan posisi mereka, dengan tujuan untuk menghindari kontra, cari selamat, cari aman.

Contoh yg biasa dilakukan Muslim MODERAT adalah seorang wanita yg mengaku beragama Islam tapi menolak POLIGAMI, paradox bukan? Seorang wanita yg beraqidah Islam yg siap mengikuti ajaran Nabinya dengan IKRAR SYAHADATAIN, justru membenci apa yg dilakukan oleh nabinya sendiri....ini sungguh terlalu. Contoh lain lagi adalah seseorang yg mendukung Negara yg tidak berlandaskan Hukum Allah atau Syariat Islam, paradox kan? Kalaupun saya harus menilai, justru muslim moderat lebih sesat dan cenderung MUNAFIK dalam aplikasinya.

So, termasuk manakah anda?

Saya punya cerita yg berjudul “Siapa Saja yang Masuk Surga?”

Ivan Iwanovitch meninggal hari Sabtu – pukul lima. Begitu juga Abdul Rahman dan Martin Christian. Bertiga mereka berjalan ke tempat hari akherat. Tidak bisa melihat siapa Iwan, siapa Abdul atau siapa Martin, karena ruh tidak ada pakaian – tidak ada raut muka. Dari jauh mereka melihat cahaya. Itulah Jesus, kata Martin, sebentar lagi kelihatan cahaya lagi, itulah Nabi Muhammad kata Abdul dan untuk ketiga kalinya dilihat warna lagi, itulah Sanctus Carolus Marx kata Ivan Iwanovitch – seorang komunis yang sejati.

Sampai akhirnya mereka melihat cahaya begitu kuat dan terang sehingga ketiga ruh dipenuhi cahaya dan kemuliaan. Hic es Deus kata Martin, Prinsip Hoffnung kata Ivan, itulah Tuhan Allah kata Abdul. Tapi yang dilihat adalah hal yang sama dan tidak ada satu orangpun diantara mereka yang masih hidup yang bisa menjelaskan apa yang dilihat tiga ruh itu.

Karena cahaya yang dilihat adalah baru, tidak ada perbandingan dan tidak ada kata yang memungkinkan melukiskan hal itu. Dan hal yang tidak dapat dipikirkan, tidak bisa dibicarakan. Dan tentang hal yang tidak bisa dibicarakan tentang hal itu, LEBIH BAIK TUTUP MULUT, kata Wittgenstein. (MAW Brouwer)

Read More..

Bencana, Demokrasi, Fundamentalisme, Kekerasan, Politik, Tokoh, Tuhan.

Dunia harus hancur, kata mereka. Tuhan menghendaki itu. Telah dinubuatkan perang penghabisan akan pecah, kata mereka. Iblis akan dihadapi dalam Armagedon itu, surga akan terkuak, dan ”Yang Setia dan Yang Benar” akan turun mengendarai seekor kuda putih.

… memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan
nama-Nya ialah: ”Firman Allah”. Dan semua pasukan
yang di surga mengikuti Dia, mereka menunggang
kudapu-tih dan memakai lenan halus yang putih bersih.
Dan da-ri mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam
yang akan memukul semua bangsa….

Gambaran yang seram itu dikutip dari Wahyu, bagian ter-akhir Alkitab. Saya tak tahu apa hubungannya dengan- zaman ini. Tapi mereka—orang-orang fundamentalis Kristen di Amerika—menganggap itulah ramal yang pasti. Armagedon bukan hanya pasti terjadi, tapi juga, kata mereka, akan meletus di masa kini, di Timur Tengah, sebelum datang ”Yerusalem yang Baru” di mana tak akan ada lagi laknat.

Read More..

Van Gogh

Van Gogh--Bagaimana kita bisa bicara tentang Mohammad B.? Pada suatu hari di bulan November 2004 yang dingin, ia membunuh Theo Van Gogh dengan tenang dan brutal di sebuah jalan di Amsterdam. Ketika seniman film itu bersepeda, Mohammad B. menghadangnya, dan menembakkan pistolnya delapan kali. Terkena lutut, Van Gogh terjerembap. Ia diseret. Dalam keadaan luka itu ia memandang orang yang menembaknya dan mencoba berbicara. Tapi Mohammad B. tak menyahut. Dengan mantap tenggorokan Van Gogh dipotongnya, hampir putus. Setelah itu, satu statemen lima halaman dipasang ke tubuh Van Gogh, direkatkan dengan sebilah pisau yang menghunjam sampai tangkai ke jantung si mati.

Kesimpulan sementara: Mohammad B. membunuh karena Van Gogh dianggapnya menghina Islam. Delapan minggu sebelumnya film Submission diputar di TV. Kata orang yang telah melihatnya, salah satu adegan menunjukkan ayat-ayat Quran tertulis di atas tubuh perempuan-perempuan yang mengenakan pakaian menerawang, dengan buah dada tampak. Ayat-ayat itu konon menyebut perkenan Allah bagi laki-laki untuk memukul istrinya. Wajah perempuan-perempuan dalam film bikinan Van Gogh itu tampak bengap, runyam.

Read More..

BUSH

Bagdad, 10 April 2003: dua lambang, dua momen, mungkin dua kekalahan. Menjelang pukul tiga, orang-orang bergerak ke arah Lapangan Firdaus, di tepi timur Sungai Tigris. Marinir Amerika sudah berada di sana. Beberapa buah tank berjaga di kedua sisi Jalan Sadoon, jalan utama wilayah itu.

Seorang Irak mendekat. Ia menunjuk ke arah patung Saddam Hussein yang setinggi tiga meter tegak di atas penopang. “Tembak saja, tembak!” katanya kepada seorang marinir. Orang Amerika itu menggeleng. “Tidak, terlalu banyak orang di situ.”

Orang-orang Irak itu kini mencoba cara lain. Seseorang kurus mencopot pelat tembaga yang dipasang pada pedestal. Seseorang yang lebih kekar menghantamnya dengan palu. Beberapa orang lain mendapatkan tali. Sebuah tangga dipasang. Dua orang marinir naik. Tali dan rantai besi dikalungkan ke leher Saddam. Dalam beberapa menit, Sersan Edward Chin, marinir AS keturunan Cina dari Myanmar, menutup wajah patung itu dengan bendera Amerika. Tak lama—tapi ia telah telanjur masuk ke dalam sebuah adegan yang bersejarah. Setelah Bendera Bintang-dan-Garis dicopot, selembar bendera Irak berkibar—tapi di sana tak ada lagi tulisan tangan Saddam yang menyebut “Allahu Akbar”.

Read More..

BAKU

BAKU, perbatasan, kematian. Ini sebuah cerita yang terjadi kurang-lebih 100 tahun yang lalu, ketika Eropa bersentuhan dengan Asia, dan seorang bangsawan muslim jatuh cinta pada Nino. Gadis ini teman sekolahnya, beragama Kristen, dan semua itu terjadi di sebuah tempat yang pas untuk cerita seperti ini: di Baku, di tepi Laut Kaspia itu, di mana Georgia, Armenia, dan Azerbaijan bertemu, di sebuah wilayah yang berada di bawah kemaharajaan Rus dan bersentuh batas dengan Persia. Agaknya novel Ali und Nino ini memang ditulis, oleh seorang pengarang misterius bernama Kurban Said, dengan arah seperti itu: Eropa bersentuhan dengan Asia, dan segala kerumitan, juga cinta dan kematian, meruyak.

Novel itu terbit dalam bahasa Jerman pertama kali di Wina pada tahun 1937. Kemudian perang meletus, dan karya yang pernah disambut hangat itu pun dilupakan, sampai akhirnya, di puing-puing Berlin, di sebuah toko buku bekas, seorang penerjemah menemukannya kembali. Pada tahun 1971 versi Inggrisnya terbit. Pada tahun 2000 ia muncul lagi dalam terbitan Anchor Books, dengan kata akhir oleh novelis Paul Theroux.

Read More..

Sekuler

Sekuler -- Sebuah negeri mustahil berhenti menjadi plural tanpa pembunuhan. Terutama di awal abad ke-21. Persoalan yang kemudian dihadapi adalah apa artinya ”plural”, dan apa gerangan pula arti ”sebuah negeri”.

Jawabannya bukannya tak ada. Di Amerika Serikat dan Inggris, ”plural” berarti ”multikultural”. Majemuk berarti menghormati dan menjaga perbedaan adat-istiadat pelbagai paguyuban yang ada dalam negeri itu. Majemuk berarti tidak mengasimilasikan penduduk atau warga negara ke dalam satu kesatuan identitas yang baru setelah yang lama dilupakan.

Dalam pandangan ini, ”asimilasi” membuat bulu kuduk berdiri, seakan-akan sebuah penindasan, ketika akar-akar budaya seseorang dibabat dan pelbagai manusia dilebur ke dalam sebuah panci, untuk membentuk sebuah kebersamaan baru yang utuh dan sama rata sama rasa—sebuah keseragaman yang represif. Namun, pandangan multikulturalisme ini hanya salah satu jawaban bagi persoalan-persoalan kemajemukan di abad ke-21.

Read More..

Menopause

Menopause
… ada godaan dari politik yang seperti itu–baik kita seorang fasis atau bukan. Sebab, di sana banyak hal jadi tegas, lurus, tak bisa ditawar-tawar. Seperti halnya pertempuran: ketika dua seteru berhadapan dengan bayonet terhunus…

Jika revolusi bukanlah sebuah jamuan makan, demokrasi bukanlah sebuah lapo tuak. Aforisme itu tentu saja tak amat segar, tapi kadang-kadang kita perlu ingat lagi bahwa demokrasi–betapapun ia sebuah cita-cita yang memikat–adalah seonggok beban. Sistem (ataukah proses?) ini bukan sebuah ruang tempat orang bisa asyik berdebat, berembuk, minum-minum, main catur, kalah dengan sebal, dan menang dengan riang, asal membayar. Ketika sejumlah orang berada bersama di suatu tempat dan hendak mengupayakan hidup yang tanpa penindasan, mereka akan segera tahu bahwa dalam sebuah demokrasi, politik adalah sebuah jalan yang musykil. Bahkan kadang-kadang agak aib, menjengkelkan, dan membosankan.

Read More..