Mungkin kita pernah menemukan istilah Ortodoxa, Heterodoxa, dan Paradoxa. Ada lagi?
1. ORTODOXA merupakan sebuah kata majemuk dan berasal dari dua kata
bahasa Yunani: orthos ("benar") dan dokein ("pikiran", "ajaran" atau
"pendapat"). Ortodoksi dalam sebuah ajaran agama artinya adalah "ajaran
yang benar", namun biasanya hal ini diartikan sebagai "ajaran yang
lama", "ajaran yang kuno" atau "ajaran yang fundamentalis".
2.
HETERODOXA Artinya menyimpang dari kepercayaan resmi atau “menyimpang”,
dan malahan merupakan oposisi dari mainstream (arus utama). Heterodox
itu muncul dari ultra ortodox atau varian dari berbagai macam ortotodox
yg satu sama lain bisa mengklaim bahwa si A adalah ortodox dan yg lain
adalah Heteredox.
3. PARADOXA adalah bentuk awal dari kata ini
muncul dalam bahasa Latin paradoxum dan berhubungan dengan bahasa Yunani
paradoxon. Kata ini terdiri dari preposisi para yang berarti "dengan
cara", atau "menurut" digabungkan dengan nama benda doxa, yang berarti
"apa yang diterima".
Sebuah 'paradoks adalah sebuah pernyataan
yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi
atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik
pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil yang
membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau "premis"nya tidak
sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul). Pengenalan
ambiguitas, equivocation, dan perkiraan yang tak diutarakan di paradoks
yang dikenal sering kali menuju ke peningkatan dalam sains, filsafat,
dan matematika.
Kata paradoks seringkali digunakan dengan
kontradiksi, tetapi sebuah kontradiksi oleh definisi tidak dapat benar,
banyak paradoks dapat memiliki sebuah jawaban, meskipun banyak yang
tetap tak terpecahkan, atau hanya terpecahkan dengan perdebatan
Saya coba gambarkan ketiga istilah ini dalam berkeyakinan. Saya ambil
salah satu contoh agama Islam mempunyai varian, sekte, aliran yg sangat
banyak, seperti Sunni, Syiah. Dari setiap varian mengklaim sebagai
Ortodox/Fundamental yg memberikan argumen2 bahwa salah satu darinya
adalah ajaran yg murni, original, langsung dari sumbernya. Ia
menggambarkan posisinya sendiri sebagai yang ortodoks (dari ortho-
"lurus" + doxa "pemikiran, ajaran") dan posisinya akhirnya berkembang
menjadi posisi Islam Salafussholihin/ahlu sunnah waljamaa/fundamental,
dari mana kata-kata ortodoks itu berasal.
Sunni akan mengklaim
bahwa ajarannya adalah ajaran yg ortodoks, sedangkan Syiah sudah
menyimpang, begitu pula sebaliknya. Dari sini dapat disimpulkan Syiah
bagi Sunni adalah HETERODOX, dan Sunni bagi Syiah pun HETERODOX. Istilah
Heterodox dalam Islam disebut KAFIR yg mempunyai arti yg sama yaitu
ingkar atau menyimpang.
Jadi, ada anggapan bahwa
heterodox/KAFIR tidak mempunyai arti yang sepenuhnya obyektif. Kategori
ini hanya ada sebagai kebalikan dari posisi suatu sekte yang sebelumnya
telah didefinisikan sebagai "ortodoks". Jadi, setiap pandangan yang non
konformis di dalam bidang apapun juga dapat dianggap "KAFIR"
(HETERODOKS) oleh yang lainnya di dalam bidang tersebut yang yakin bahwa
pandangan mereka adalah yang "benar" (ortodoks).
Para penyesat
(takfiriyah) biasanya tidak menganggap keyakinan mereka sesat. Menyebut
sebuah ajaran itu "sesat" adalah suatu penghakiman yang tidak bebas
nilai, karena hal itu dilakukan dari dalam suatu sistem kepercayaan yang
mapan. Misalnya, menurut MUI, SYIAH adalah sesat, maka mereka wajib
bertaubat. Bagaimana jika tidak?
Agar sebuah ajarah sesat bisa
ada, pertama-tama harus ada suatu sistem dogma yang berwibawa yang
ditetapkan sebagai dogma yang ortodoks, seperti misalnya yang diusulkan
oleh MUI atau DEPAG dalam mengeluarkan FATWA.
Nah, bagaimana
dengan PARADOXA? Yang termasuk kategori PARADOXA dimainkan oleh ISLAM
MODERAT; yg kebanyakan berusaha mencari jalan tengah, padahal pada
kenyataannya mereka tidak tahu atau masih kebingungan mana letak TENGAH
yg sebenarnya, karena ujungnya pun mereka tidak tahu dimana. Sedangkan
posisi mereka sebenarnya ada dalam posisi PARADOX, yaitu berusaha
mengaburkan posisi mereka, dengan tujuan untuk menghindari kontra, cari
selamat, cari aman.
Contoh yg biasa dilakukan Muslim MODERAT
adalah seorang wanita yg mengaku beragama Islam tapi menolak POLIGAMI,
paradox bukan? Seorang wanita yg beraqidah Islam yg siap mengikuti
ajaran Nabinya dengan IKRAR SYAHADATAIN, justru membenci apa yg
dilakukan oleh nabinya sendiri....ini sungguh terlalu. Contoh lain lagi
adalah seseorang yg mendukung Negara yg tidak berlandaskan Hukum Allah
atau Syariat Islam, paradox kan? Kalaupun saya harus menilai, justru
muslim moderat lebih sesat dan cenderung MUNAFIK dalam aplikasinya.
So, termasuk manakah anda?
Saya punya cerita yg berjudul “Siapa Saja yang Masuk Surga?”
Ivan Iwanovitch meninggal hari Sabtu – pukul lima. Begitu juga Abdul
Rahman dan Martin Christian. Bertiga mereka berjalan ke tempat hari
akherat. Tidak bisa melihat siapa Iwan, siapa Abdul atau siapa Martin,
karena ruh tidak ada pakaian – tidak ada raut muka. Dari jauh mereka
melihat cahaya. Itulah Jesus, kata Martin, sebentar lagi kelihatan
cahaya lagi, itulah Nabi Muhammad kata Abdul dan untuk ketiga kalinya
dilihat warna lagi, itulah Sanctus Carolus Marx kata Ivan Iwanovitch –
seorang komunis yang sejati.
Sampai akhirnya mereka melihat
cahaya begitu kuat dan terang sehingga ketiga ruh dipenuhi cahaya dan
kemuliaan. Hic es Deus kata Martin, Prinsip Hoffnung kata Ivan, itulah
Tuhan Allah kata Abdul. Tapi yang dilihat adalah hal yang sama dan tidak
ada satu orangpun diantara mereka yang masih hidup yang bisa
menjelaskan apa yang dilihat tiga ruh itu.
Karena cahaya yang
dilihat adalah baru, tidak ada perbandingan dan tidak ada kata yang
memungkinkan melukiskan hal itu. Dan hal yang tidak dapat dipikirkan,
tidak bisa dibicarakan. Dan tentang hal yang tidak bisa dibicarakan
tentang hal itu, LEBIH BAIK TUTUP MULUT, kata Wittgenstein. (MAW
Brouwer)
Read More..
Richard Dawkins, salah seorang evolusionis paling populer saat ini, menulis surat terbuka dalam buku kumpulan esai A Devil's Chaplain (Selected Essays) kepada anaknya, Juliet. Surat terbuka itu meringkaskan apa yang dianggap sang ayah sebagai satu sikap hidup terpenting: percayalah hanya pada evidence, pada fakta empiris, dan penyimpulan rasional atas dasar fakta.
Dan sains adalah wujud terbaik dari sikap setia kepada fakta. Keberanian untuk membela kesetiaan ini tecermin dalam kerelaan mengikutinya, ke mana pun ia membawa kita, sekalipun itu berarti penolakan kearifan lama. Sikap inilah yang mewarnai tulisan-tulisan Dawkins, dan kerap disampaikan dengan cara mengolok-olok lawannya, dengan sindiran, juga kemarahan. Karenanya, ini adalah buku yang amat bergairah, meski terkadang memang menjengkelkan.
Read More.. Baca selengkapnya »
Seorang ahli dari kelompok “The Theology Of Freedom” dari Brazil bernama Leonardo Boff bertanya pada Dalai Lama pemimpin umat Buddha dari Tibet.
Leonardo Boff: Yang Mulia, apakah agama terbaik?
Leonardo Boff menduga bahwa Dalai Lama akan menjawab, Agama Buddha dari Tibet atau agama Oriental yg lebih tua dari agama Kristen.
Ternyata sambil tersenyum,
Dalai Lama menjawab: Agama terbaik adalah agama yg lebih mendekatkan anda pada Tuhan, yaitu agama yg membuat anda menjadi org yg lebih baik.”
Sambil menutupi rasa malu karna punya dugaan kurang baik tentang Dalai Lama,
Leonardo Boff bertanya lagi,
Leonardo Boff: Apakah tanda agama yg membuat kita menjadi lebih baik?
Jawaban Dalai Lama: Agama apapun yg bisa membuat anda Lebih welas asih, Lebih berpikiran sehat, Lebih objektif dan adil, Lebih menyayangi, Lebih manusiawi, Lebih punya rasa tanggung jawab, Lebih ber-etika. Agama yg punya kualitas seperti di atas adalah agama terbaik.
Leonardo Boff terdiam sejenak dan terkagum-kagum atas jawaban Dalai Lama yg bijaksana dan tidak dapat di bantah.
Selanjutnya, Dalai Lama berkata: Tidak penting bagiku kawan, Apa agamamu, Tidak peduli anda beragama atau tidak. Yg betul-betul penting bagi saya adalah perilaku anda di depan kawan-kawan anda, di depan keluarga, lingkungan kerja dan dunia.
Akhirnya, Dalai Lama berkata,
Jagalah pikiranmu, Karena akan menjadi perkataanmu.
Jagalah perkataanmu, karena akan menjadi perbuatanmu.
Jagalah perbuatanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu.
Jagalah kebiasaanmu, karena akan embentuk karaktermu.
Jagalah karaktermu, karena akan memmbentuk nasibmu, dan nasibmu akan menjadi kehidupanmu, dan tidak ada agama yg lebih baik dari pada “KEBENARAN”.
Read More..
Sebelum melakukan pernikahan, dalam islam pun ada tradisi pertunangan
(khitbah). Pertunangan dalam Kitab Fikih Sunnah Sayyid Sabiq memberikan
definisi meminang sebagai berikut :
طلبها للزواج با لواسيلة المعروفة الناس
“Meminang artinya seorang laki-laki meminta kepada seorang perempuan
untuk menjadi isterinya dengan cara-cara yang sudah berlaku di
tengah-tengah masyarakat”.
Peminangan dalam ilmu fiqh disebut
khitbah, artinya permintaan. Menurut istilah artinya pernyataan atau
permintaan dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan untuk
mengawininya, baik dilakukan oleh laki-laki itu secara langsung atau
dengan perantara pihak yang dipercayainya sesuai dengan
keetentuan-ketentuan agama.
Read More..
Baca selengkapnya »
FIKIH KLASIK?
(Bagian atau memang biang keladi kedunguan/jahiliyat/kejumudan umat Islam sekarang?
Read More.. Baca selengkapnya »
ADA yang
menyebutnya ”Napoleon”. Ia memang pendek, bulat, berkibar-kibar dalam
tiap konfrontasi, tangkas, dan agresif. Kini tak banyak orang yang masih
mengingat sosok dan namanya, tapi pada tahun 1950-an, Kiai Haji Isa
Anshary, tokoh Partai Masyumi dari Jawa Barat itu, merupakan tonggak
tersendiri di Indonesia: orang mengaguminya atau memandangnya dengan
cemas. Terutama waku itu, ketika gagasan untuk mendirikan ”negara Islam”
dipergulatkan dalam perdebatan politik dan persaingan yang terbuka.
Pada
tahun 1955, Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum pertama secara
nasional. Para sejarawan mencatatnya sebagai ikhtiar besar pertama kita
yang berhasil dalam kehidupan demokrasi, sebab tak tercatat kecurangan
dan praktis tak terjadi kekerasan selama kompetisi politik itu
berlangsung.
api tak berarti api tak mulai merayap dalam sekam
kehidupan masyarakat. Retorika bisa begitu berkobar dan percikannya
bukannya lekas padam di ruang hampa. Dalam hal ini, ucapan-ucapan Isa
Anshary punya efek bakar yang agaknya jauh—yang mungkin kelak ikut
membuat suasana eksplosif di Indonesia setelah 1959.
Dunia
harus hancur, kata mereka. Tuhan menghendaki itu. Telah dinubuatkan
perang penghabisan akan pecah, kata mereka. Iblis akan dihadapi dalam
Armagedon itu, surga akan terkuak, dan ”Yang Setia dan Yang Benar” akan
turun mengendarai seekor kuda putih.
… memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan
nama-Nya ialah: ”Firman Allah”. Dan semua pasukan
yang di surga mengikuti Dia, mereka menunggang
kudapu-tih dan memakai lenan halus yang putih bersih.
Dan da-ri mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam
yang akan memukul semua bangsa….
Gambaran
yang seram itu dikutip dari Wahyu, bagian ter-akhir Alkitab. Saya tak
tahu apa hubungannya dengan- zaman ini. Tapi mereka—orang-orang
fundamentalis Kristen di Amerika—menganggap itulah ramal yang pasti.
Armagedon bukan hanya pasti terjadi, tapi juga, kata mereka, akan
meletus di masa kini, di Timur Tengah, sebelum datang ”Yerusalem yang
Baru” di mana tak akan ada lagi laknat.
Seorang
isteri guru ditangkap polisi di Tangerang. Ia berada di jalan di
sekitar pukul tujuh malam. Ia harus membuktikan dirinya bukan pelacur.
Peraturan Daerah mengharuskan itu. Tuan-tuan yang berkuasa di Tangerang
tampaknya berpendapat, tiap perempuan yang berada di luar rumah dalam
remang itu perlu dicurigai sebagai “jalang”…
Bisakah Tuan-Tuan itu memperkirakan, kini “kaum perempuan di Tangerang dicengkram ketakutan”?.
Tapi
mereka mungkin tak mengacuhkan pernyataan Forum Solidaritas Perempuan
Banten, 22 Maret 2006 itu – juga tak membayangkan para ibu yang cemas
bila anak mereka pulang terlambat dari kursus di malam hari dan saudara
mereka kembali dari pabrik setelah senja.
Mungkin Tuan-Tuan itu
akhirnya akan menjawab (dengan dukungan Majelis Ulama): perempuan memang
harus tinggal di rumah, “dilindungi”. Tuan-Tuan itu pasti bukan kelas
bawah yang perlu dapat tambahan penghasilan dari upah isteri yang jadi
pemijat, penunggu kios rokok atau bakul jamu. Lagipula ayat suci bisa
dikutip, sebagaimana di Arab Saudi Qur’an dan Hadith dikutip untuk
memutuskan: perempuan tak boleh berpakaian lain selain purdah, perempuan
tak boleh menyetir mobil, dan tentu saja tak boleh jual jamu…
Perempuan selalu dekat dengan dosa – itulah mungkin pikir Tuan-Tuan di Tangerang, seraya mendengar agama berbicara.
Tentu saja agama yang datang dari Timur Tengah.
Saya
tak tahu persis kenapa di sana perempuan selalu ditilik demikian.
Mungkinkah karena sebuah pengalaman, yang kemudian jadi paradigma, juga
metafor – yaitu dahsyatnya gurun pasir?
Siapa tahu. Sebab ada seorang tua bernama Apa Sisoes. Ia seorang biarawan di Mesir abad ke-4.
…murid
Apa Sisoes itu berkata kepadanya, “Bapa, bapa telah tua. Mari kita
pindah sedikit ke dekat tanah yang telah dihuni.“ Orang Tua itu
menyahut, “Di mana tak ada perempuan, ke tempat itulah kita harus
pergi”. Murid itu pun berkata kepadanya, “Tempat apa lagi yang tak ada
perempuannnya, kecuali gurun pasir?”. Dan Orang Tua itu berkata, “Bawa
aku ke gurun pasir”. Kisah itu diceritakan kembali oleh Peter Brown,
gurubesar sejarah di Princeton University, dalam The Body and Society,
sebuah paparan penting tentang iman dan seksualitas, ketika perempuan
ditampilkan sebagai sumber godaan yang tak habis-habisnya di masa awal
agama Kristen — ketika seorang biarawati yang menepuk kaki bapak uskup
yang sepuh dan sakit sudah bisa dianggap merangsang untuk bersetubuh.
Maka tak mengherankan bila di Mesir masa itu ada seorang rahib yang
mencelupkan jubahnya ke bangkai seorang perempuan yang sudah membusuk;
ia berharap, bau baseng itu tak akan membuatnya mau berfantasi tentang
wanita.
Bahkan ada seorang calon biarawan yang menggendong ibunya
yang tua menyeberangi sungai seraya membungkus tangannya dengan kain,
sebab ia tak mau bersentuhan dengan kulit ibunya sendiri. “Daging semua
perempuan adalah api”.
Perempuan adalah api — daya yang bisa
merusak, bagian dari “dunia”, begitulah waktu itu ada petuah agama yang
berkata. Wanita harus dijauhi dan dijauhkan. Ia tak termasuk “gurun
pasir”.
“Gurun pasir”, bentangan alam yang garang itu, waktu itu
punya makna tersendiri. Gurun pasir, dalam catatan Brown, “muncul
sebagai tempat yang tak tertandingi dalam heroisme Kristen”. Di sanalah
laki-laki bisa hidup keras dan khusyuk melatih diri bebas dari nafsu
apapun. Dalam kekhusyukan itu, batas harus tegas antara “gurun pasir”
dan “dunia”.
Maka ketika dunia diliputi “dosa”, di gurun itu —
terbentang dari tepi Danau Maryût sampai ke arah Iskandariah, terutama
di Wadi Natrûn — tinggallah ratusan apotaktikoi, “para penampik” yang
tak menghendaki hidup dengan panca indera yang mencicipi nikmat bumi.
Penampikan
itu tentu saja akhirnya tak hanya terbatas di gurun pasir, dan juga tak
hanya di Mesir. Bahkan sejak abad ke-2, para alim Masehi memandang
perempuan sebagai pangkal kematian. Di bawah pengaruh ajaran Tatian,
pelbagai kelompok Gereja Kristen Suriah meyakininya.
…dan mereka
bilang, Juru Selamat sendiri berkata: “Aku datang untuk membatalkan
kerja perempuan”… “Perempuan” di situ ditafsirkan sebagai hasrat
seksual, “kerja” diartikan kelahiran dan maut. Demikianlah dengan
was-was komunitas Kristen yang terserak sampai ke kaki-kaki bukit
Iran
memandang “dunia”: kelahiran, perempuan, kematian. Tapi tak hanya
mereka sebenarnya. Juga dari sekitar gurun pasir Timur Tengah, agama
Yahudi mengawali rasa was-was itu. Aliran ortodoksnya menggariskan kol
isha yang melarang lelaki mendengarkan perempuan menyanyi.
Ada yang hanya mengharamkan mereka menyaksikan pertunjukan nyanyi yang “sugestif”..
Ada
yang lebih ketat: mereka melarang lelaki mendengarkan suara perempuan
bahkan dalam rekaman. Dan tak cuma itu. Dalam komunitas Yahudi ortodoks
zaman modern sekalipun, perempuan tak boleh berbaju tanpa lengan,
memakai blouse dengan potongan krah rendah. Celana ketat dilarang. Lutut
harus ditutupi. Halacha, syariat Yahudi, mengharuskan perempuan yang
sudah menikah menutup rambutnya…
Saya tak tahu, kenapa dari
sekitar gurun pasir Tuhan bertitah agar perempuan diperlakukan demikian.
Kenapa di Bali, misalnya, tidak? Mungkinkah karena di sini tak berlaku
paradigma “gurun pasir”: para pertapa tak mengalami alam yang kosong dan
garang, melainkan hutan tropis yang semarak, gua yang dirias pohon dan
rumpun, akar dan kembang, bunyi burung dan biru gunung? Dengan kata
lain: sebuah “dunia”, di mana yang indrawi tak ditampik, hingga
pertapaan bukianlah tempat apotaktikoi? Dalam cerita wayang, di situ
malah lahir ksatria Bambang Sumantri dan gadis Shakuntala.yang gemulai.
Apapun
sebabnya, di kesunyian hidup brahmana dan resi tak tampak rasa was-was
kepada “dunia”, kepada perempuan. Di sana, tafakur adalah bersyukur.
Tapi itu dulu. Siapa tahu kita telah berubah, dan Tuan-Tuan Tangerang lebih suka paradigma baru: “
padang pasir”..
~Majalah Tempo Edisi. 45/XXXIV/02 - 8 Januari 2006
Ada
satu yang mengerikan dari Italia pada abad ke-17. Dicetak di kertas
dengan teknik cukilan kayu, ilustrasi itu merekam sebuah adegan di
Milano pada tahun 1630. Inilah rinciannya:
Pes merebak, dan
sejumlah penduduk dituduh menyebarkan wabah itu. Mereka, disebut para
untori, ditangkap dan diarak dengan kereta lembu keliling kota. Seraya
disiksa.
Mula-mula tubuh mereka dirobek dengan kakaktua. Setiba
di Avenue Carrabio, tangan kanan mereka dipotong. Sesampai di halaman
mahkamah, mereka ditelanjangi; tulang kaki, lengan, dan pinggang mereka
dipatahkan di atas roda. Roda-roda yang menopang tubuh mereka itu
kemudian diangkat di atas galah, dan dalam kesakitan itu mereka
terpentang selama enam jam. Lalu leher mereka dipenggal, jasad mereka
dibakar.
Muqodimah
Al-Qur’an adalah kitab suci pegangan hidup umat Islam yang sakral. Kaum Muslimin meyakini, bahwa al-qur’an dari ayat pertama hingga akhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw secara verbatin (lafdzan) maupun maknanya (ma’nan). Sehingga ajaran-ajaran, perintah-perintah serta larangan yang terdapat di dalamnya, menjadi suatu hal yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh umat manusia secara universal.
Sejak awalnya diturunkannya Al-Qur’an hingga sepeninggal nabi Muhammad saw berlanjut pada era modern dan postmodern saat ini, eksistensinya selalu mendapatkan gangguan-gangguan, baik dari kalangan luar maupun dari dalam Islam sendiri. Sebut saja Musyailamah Al-Kadzab dengan membuat Al-Qur’an palsu dan tandingan-tandingannya. Gustav Flugel dengan mushaf “Corroni Textus Arabic”, Arthur Jeffery dengan Al-Qur’an Edisi Kritis, dan kasus terakhir yaitu kasus Luxenberg dan bukunya “Die Suro-aramaismshe Lesart des Koran” (cara membaca Al-Qur’an dengan bahasa Syiro-armaik: sebuah sumbangsih upaya pemecahan kesukaran memahami bahasa Al-Qur’an).
Ironisnya, sakralitas Al-Qur’an pun berusaha untuk dihilangkan oleh kalangan umat Islam sendiri. Salah satu diantaranya adalah Nashr Hamid Abu Zaid, seorang pemikir modernis asal Mesir. Ia mengenalkan studi al-Qur’annya dengan proposisi hubungan antara teks (nash) dan interpretasi (takwil). Menurutnya, teks dan interpretasi adalah merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan, seperti dua sisi mata uang. Menurutnya, selama ini ulama selalu memisahkan antara teks dan takwil, takwil dianggap sebagai suatu yang tabu dan dilarang. Ini mengkibatkan teks menjadi tertutup dan makna-makna yang terkandung menjadi tidak tercapai. Sehingga menurutnya, perlu untuk meninggalkan metode yang menurutnya tradisional, dengan meletakan “konsep teks” (mafhum al-nash) sebagai pusat pengkajian, sehingga penggunaan teori heemeneutika menjadi keniscayaan.dengan demikian dapat meminimalisasikan subyektifitas dan kepentingan-kepentingan ideoogis dalam interpretasi.[1]
Menurut Nashr Hamid, Al-Qur’an merupakan teks manusiawi. Proses pemanusiaan ini, menurutnya, sebenarnya sudah berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad saw menuturkan firman-firman “verbal” Tuhan itu dalam bentuk-bentuk bahasa arab (bahasa orang Jazirah Arab). Tanpa berpretensi mendesakralisasikan teks Al-Qur’an secara mutlak, Nashr hamid sebenarnya hendak meneguhkan ke-imanesian Al-Qur’an sehingga bisa dicandra oleh pemahaman manusia tanpa harus menampik asal-usul transedensialnya.
Dalam konteks ini sebenarnya, Nashr Hamid hendak mengulang ‘manifesto’ guru in absentia-nya, Amin Al-Khuli, yang mengatakan “bahwa Al-Qur’an adalah kitab agung berbahasa arab” (kitab al’arabiyah al-akbar).[2] Perkataan “kitab berbahasa arab” mengindikasikan sisi imanensi Al-Qur’an, dan “kitab agung” mengindikasikan aspek transendennya. Dengan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah teks berbahasa arab yang menyejarah, Abu Zayd lalu mendudukan Al-Qur’an sebagai teks yang mungkin dianalisis melalui perangkat kajian linguistik dan historis.
Di samping itu, dengan menegaskan tekstualitas Alqur’an. Abu Zayd hendak mengkaitkan kembali kajian ilmu Alqur’an dengan konteks studi kritik sastra. Artinya, menurutnya, layaknya seperti teks-teks lain, Alqur’an mungkin didekati dengan pelbagai perangkat kajian tekstual modern.[3] Sebagaimana dikatakannya, Alqur’an adalah teks bahasa (nashs lughawiy) yang bisa digambarkan sebagai teks sentral (nashs mihwariy) dalam peradaban Arab. Jika demikian, mendudukan Alqur’an sebagai teks histories tidak berarti mereduksi keilahiannya. Justru historisitas tekslah yang menjadikan Alquran sebagai subjek pemahaman dan takwil. Dengan demikian lanjutnya, analis sosiohistoris diperlukan dalam proses pemahan Alqur’an, dan pemanfaatan metodelogi linguistik modern menjadi sesuatu yang niscaya dalam praktik takwil. Di sinilah arti penting tekstualitas dan historisitas Alqur’an. Mengabaikan tekstualitas Alqur’an hanya mengarahkan pada pembekuan makna pesan. Ketika makna pesan dibekukan, maka ia akan sangat gampang dilacurkan pada arah dan kepentingan ideologis sang pembaca.[4]
Berpijak dari dua hal tersebut, ada dua tema besar yang diusung oleh Nashr Hamid, dan hendak diungkapan dalam makalah ini. Pertama, konsep Alqur’an yang kita kenal selama ini sebuah produk budaya (muntaj tsaqafi). Dan yang kedua adalah penggunaan metode pengkajian linguistik dalam pemahaman atau penafsiran Alqur’an. Pemahaman ini akan menjadi pijakan bagi pelibatan realitas sosial-budaya (muntaj tsaqafi) dikarenakan teks Alqur’an terbentuk dalam realitas budaya selam dua puluh tahun. Oleh karena itu, dalam pandangan Nashr Hamid perlu adanya dialektika yang terus-menerus antara teks Alqur’an dan kebudayaan manusia yang senantiasa berkembang secara pesat. Jika hal ini tidak dilakukan, maka teks Alqur’an akan hanya menjadi benda atau teks mati yang tidak berarti apa-apa dalam kancah fenomena kemanusiaan.[5] Disamping itu karena teks Alqur’an menjadi teks yang hegemonik dan menjadi rujukan bagi teks yang lain, maka kemudian Alqur’an juga menjadi produsen budaya (muntaj al-tsaqafi).
A. Riwayat Hidup Nashr Hamid Abu Zayd[6]
Nashr Hamid Abu Zayd adalah seorang tokoh modernis Islam yang berkeinginan untuk menjadikan hermeneutika sebagai satu-satunya metode interpretasi al-Qur’an. Nashr Hamid mengklaim bahwa interpretasi al-Qur’an selama ini merupakan interpretasi yang karena dipenuhi oleh kepentingan-kepentingan ideologis, serta metode interpretasi yang dipakai kalangan ulama selama ini tidak ilmiah. Menurutnya pendekatan yang layak dan niscaya dilakukan adalah pendekatan kritik historis dan kritik sastra.
Nasr Hamid Abu Zayd lahir di Quhafa, beberapa Km 120 dari Kairo, dekat Tanta, Mesir pada tanggal 10 Juli 1943. Pemikir kontroversial Mesir dan profesor Studi Arab Nasr Hamid Abu Zaid pada hari senin pagi 5 Juli 2010 meninggal di sebuah rumah sakit Kairo akibat serangan virus yang dijelaskan oleh para dokter sebagai penyakit yang “jarang dan langka.” Pada usia 12 tahun, Abu Zayd pernah dipenjarakan karena diduga bersimpati dengan Ikhwanul Muslimin. Setelah menerima pelatihan teknis ia bekerja untuk National Komunikasi Organisasi di Kairo. At the same time, he started studying at Cairo University , where he obtained his BA degree in Arabic Studies (1972), and later his MA (1977) and PhD degrees (1981) in Islamic Studies , with works concerning the interpretation of the Qur’an . Pada saat yang sama, ia mulai belajar di Universitas Kairo , di mana ia memperoleh gelar BA gelar dalam bahasa Arab Studi (1972), dan kemudian hari MA (1977) dan PhD derajat (1981) dalam Studi Islam. Pada tahun 1982, ia bergabung dengan staf pengajar dari Departemen Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Kairo sebagai asisten profesor. He became an associate professor there in 1987. Ia menjadi profesor di sana pada tahun 1987.
Pada tahun 1993, ia divonis murtad oleh para ulama Islam khususnya Al-Azhar dan menikah dengan Yunis yang secara resmi pernikahannya itu dibatalkan oleh pengadilan keluarga Mesir dengan alasan bahwa seorang wanita Muslim tidak bisa menikah dengan orang yang sesat dan murtad. Di antara karya Abu Zaid yang dianggap terbaik oleh kalangan pemujanya berjudul “The Founding of Medieval Ideology and A Critique of Religious Discourse” (Pendirian Ideologi Abad Pertengahan dan Kritik Wacana Keagamaan.)
B. Al-Qur’an Dalam Pandangan Nashr hamid Abu Zayd
Teori interpretasi menurut Nash Hamid harus terbangun dan sesuai dengan konsep Alqur’an itu sendiri. Itulah mengapa proposisi hubungan antara teks (nash) dan interpretasi (takwil) menurutnya tidak bisa dipisahkan. Sehingga penggunaan teori tersebut merupakan suatu keniscayaan, karena sesuai dengan hakekat dari keberadaan nash tersebut. Berikut beberapa anasir untuk memahami pandangan Abu Zayd tentang Alqur’an yang telah melahirkan teori tafsirnya, antara lain :
- Al-Qur’an Sebagai Teks
Nashr Hamid dalam hal ini mengambil distingsi Roland Barthes tentang ‘teks’ dan ‘karya’ (work) dengan mengubah sedikit interpretasi dan istilahnya. Menurut Barrthes, karya (work) adalah sebuah obyek yang sudah selesai, sesuatu yang dapat dihitung (computable), yang menempati suatu ruang fisik. Sedangkan teks adalah sebuah ranah metodelogis (methodological field). “Karya dipegang dalam tangan, teks dipegang dalam bahasa” (The work is held in hand, the text in language).[9] Artinya, teks yang diungkapkan oleh Barthes adalah teks atau karya yang dimaksudkan di atas, adalah teks-teks serta karya-karya sastra sebagaimana buatan manusia.
Pengembangan teori tentang teks, oleh Nashr Hamid, dikaitkan dengan bahasa dan budaya, yaitu dengan menghilangkan ‘dimensi ilahiyah teks’ dari kajian. Sehingga sebagaimana teks-teks yang lain, kajian terhadap Al-Qur’an yang sudah merupakan teks manusiawi dengan menggunakan analisa wacana (discourse analysis) dan semiotika adalah suatu hal yang niscaya. Dalam analisis wacana, teks didefinisikan sebagai system tanda linguistik yang memproduksi makna, sementara dalam semiotik, teks mencakup segala macam sistem tanda yang memproduksi makna, seperti simbol, patung, iklan, karikatur, dan film. Oleh karena itu, analisis wacana adalah bagian dari semiotik yang mengkaji tanda-tanda linguistik.[10] Selanjutnya dalam analisis wacananya, Nash Hamid membagi teks menjadi dua tipe, yaitu teks primer dan sekunder. Adapun yang dimaksud dengan teks primer adalah Alqur’an, sedangkan sekunder adalah sunnah dan pendapat-pendapat sahahabat dan para ulama.
Untuk memuluskan konsep teksnya, Nashr Hamid mendekonstruksi proses pewahyuan dan konsep Alqur’an kepada nabi Muhammad saw melalui dua tahapan. Pertama adalah adalah tahap tanzil yaitu proses turunnya teks Alqur’an dari Allah swt kepada malakiat Jibril, teks masih berupa teks non bahasa.[11] Konsep “menurunkan atau tanzil” disini dipahami sebagai “menurunkan” kepada manusia melalui dua perantara; pertama, malaikat, dan yang kedua adalah Muhammad yang berbentuk manusia.[12] Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ayat-ayat Alqur’an dalam tahap ini masih berupa makna saja. Kedua adalah, proses takwil yaitu proses dimana Nabi Muhammad saw menyampaikan teks Alqur’an dengan bahasanya yaitu bahasa Arab. Dalam proses ini, nash Alqur’an berubah dari teks Illahi kepada teks Insani atau dari tanzil menjadi takwil.[13]
Menurut Nashr Hamid, penekanan yang terlalu berlebihan pada dimensi Ilahi (divine dimension) menjadikan pemikiran Islam menjadi stagnan.[14] Dia menyatakan : “Bagaimanapun, kalam Ilahi perlu mengadaptasi diri dan menjadi manusiawi karena Tuhan ingin berkomunikasi dengan manusia. Jika Tuhan berbicara dengan bahasa Tuhan, manusia sama sekali tidak akan mengerti. (The Word of God needed to adapt itself become human because God wanted to communicate to human beings. If God spoke God-language, human beings would understand nothing).[15]
Allah swt Jibril Muhammad Umat
Tanzil Takwil
Nashr Hamid mengungkapkan bahwa teks ketika turun kepada nabi Muhammad saw berupa makna, karena problema bahasa. Sebagaimana diungkapkannya “Wahyu adalah bentuk komunikasi antara Tuhan dan manusia. Tapi dalam komunikasi ini, Tuhan berada dalam sebuah kategori dan manusia dikategori yang lain. Tuhan adalah kekuatan supranatural, sedangkan manusia makhluk duniawi. Bahasa apa yang dipakai dan dengan saluran (chanel) apa?.[16] Dengan kata lain Nashr Hamid mengungkapkan bahwa karena manusia dan Allah berada pada dimensi yang berbeda, maka dengan sendirinya masing-masing mempunyai sistem bahasa yang berbeda. Dengan demikian Jibril menerima makna dari Allah yang nantinya akan dibahasa yang digunakan oleh nabi Muhammad.
Menurut Nashr Hamid menginterpretasikan pesan dengan bahasanya, nabi Muhammad telah dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan, sosial, budaya setempat ketika itu. Karena beliau adalah produk dari masyarakat dimana beliau tinggal. Beliau tumbuh dan berkembang di Makkah sebagai anak yatim, didik dalam suku Bani sa’ad sebagaimana anak-anak sebayanya di perkampungan Badui.[17] Sehingga dalam pandangannya al-Qur’an merupakan spirit wahyu yang disaring melalui Muhammad dan sekaligus dieksprsikan dalam batas kemampuan linguistik beliau yang dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan, sosial, dan budaya setempat.
Dengan definsi tersebut diatas, Nashr Hamid memandang bahwa nabi Muhammad saw sebagai seorang ummy, bukanlah penerima pasif wahyu, tetapi juga mengolah reaksi al-Qur’an sesuai dengan kondisinya sebagai manusia biasa. Konsep yang menyatakan bahwa teks al-Qur’an sebagai spirit wahyu dari Tuhan identik dengan konep teks bible, bahwa “The Whole Bible is given by inspiration of God”.[18]
Selanjutnya dalam bukunya Mafhum al-Nass, Nashr Hamid menyatakan bahwa al-Qur’an adalah teks linguistik (nash lughawiy). Diakuinya bahwa memperlakukan Al-Qur’an sebagai sebuah teks bukanlan idenya sendiri, tetapi sudah diungkapkan terlebih dahulu oleh Amin Al-kulli yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah “kitab agung berbahasa Arab”.[19]
وإذا كنا لا نستيع أن نتجاهل هذا التراث و نسقطه من حسبنا ، فإننا بنفس القدر لا نستطيع أن نتقبله كما هو ، بل علينا أن نعيد سياغاته فنتره عنه ما هو غير ملائم لعصرنا ونعقد فيه الجوانب الإجابية و نجددها و نصوغها بلغة مناسبة لعصرنا
(Kita tidak mungkin mengabaikan warisan budaya dan tidak mungkin menghilangkannya dari pertimbangan kita, oleh karena itu kita dengan kadar yang sama tidak dapat menerimanya begitu saja, tetapi kita harus merumuskan kembali dan membuang apa yag tidak sesuai dengan masa kita. Dan di sini kita enegaskan aspek-aspek positifnya, memperbahuruinya, dan merumuskannya dengan bahasa yang sesuai dengan masa kita).[20]
Amin al-Kulli sendiri adalah seorang pemikir Muslim pertama yang mengaplikasikan metode pendekatan sastra dalam pengkajian al-Qur’an.[21] Al-Kulli dalam bukunya Manahij Tajdid fi al-Nahwu wa al-Balagha wa al-Tafsir wa al-Adab menyatakan, sebelum melakukan penafsiran, seorang mufasir harus mempunyai anggapan bahwa al-Qur’an adalah kitab agung berbahasa Arab dan pengaruhnya sangat besar terhadap sastra (kitab al’arabiyya al-akbar wa atharuha al-adabi al-a’zam).[22]
Metode kritik sastra yang diterapkan Nashr Hamid merupakan bagian dari teori-teori hermeneutika, yang dikenalnya ketika berada di Universitas Pennsylvania Philadelphia.[23] Hal ini diakuinya dengan mengatakan “ I did a lot of reading on my own, especially in the fields of philosophy and hermeneutics. Hermeneutics, the science of interpreting texts, opened up a brandnew word for me”.[24] Artinya kurang lebih adalah (saya banyak membaca sendiri, khususnya di dalam bidang filsafat dan hermeneutika. Hermeneutika, ilmu untuk menafsirkan teks-teks, yang telah membuka cakrawala dunia bagiku). Setelah akrab dengan literature hermeneutika Barat, Nashr hamid kemudian membahas mengeni hakikat teks, yang merupakan persoalan mendasar dalam hermeneutika. Hermeneutika, ilmu menafsirkan teks-teks, yang sudah membuka cakrawala dunia baru bagiku. Setelah akrab dengan literatur hermeneutika Barat, Nashr Hamid kemudian membahas mengenai hakikat teks, yang merupakan persoalan mendasar dalam hermeneutika.[25]
2. Al-Qur’an sebagai Produk Budaya
Disamping sebagai teks sastra, Nashr Hamid juga menyatakan bahwa al-Qur’an merupakan produk budaya (muntaj tsaqofi). Hal ini karena al-Qur’an terbentuk atas realitas sosial dan budaya selama dua puluh tahun, proses kemunculan dan interaksinya dengan realitas budaya selama dua puluh tahun tersebut adalah merupakan fase “keterbentukan” (marhalah al-takawwun wa a-tasyakul). Fase berikutnya adalah fase “pembentukan” (marhlah al-takin wa al-tasyakul), dimana al-Qur’an selanutnya membentuk suatu budaya baru, sehingga al-Qur’an dengan sendirinya juga menjadi “produsen budaya” (muntij al-tsaqofi). Nash Hamid beralasan bahwa ketika Allah mewahyukan al-Qur’an kepada nabi Muhammad dengan memilih bahasa manusia sebagai kode dari wahyu tersebut.
Pemilihan sistem bahasa dikaitkan dengan sarana sistem sosial yang paling penting dalam menangkap dan menyusun dunia (tajassad). Atas dasar ini, tidaklah mungkin untuk berbicara bahasa terpisah dari budaya dan relitas, sebagaimana teks yang tidak bisa dipisahkan dengan budaya dan realitas juga.[26] Kedua fase tersebut bisa dijelaskan dengan skema sebagai berikut :
Fase “Keterbentukan”
Budaya Teks Budaya
Fase “Pembentukan”
Pada fase pertama yaitu fase keterbentukan, budaya adalah sebagai subyek, sementara teks adalah obyek (teks sebagai muntaj tsaqofi). Sedangkan pada fase selanjutnya, teks menjadi subyek yang membentuk obyek, yaitu budaya baru (teks sebagai muntij al-thaqofi).[27]Dan akhirnya karena realitas budaya tidak bisa dipisahkan dengan bahasa maka dengan sendirinya al-Qur’an merupakan teks bahasa (nash lughawi).[28]
Dari pandangan adanya hubungan dialektis antara teks al-Qur’an dan relitas budaya tersebut, Nashr Hamid menyimpulkan bahwa dalam penggunaan metode linguistik, juga diperlukan penggunaan metode kritik sejarah (historical criticism) dalam menginterpretasikan al-Qur’an. Dalam arti, pendekatan kajian al-Qur’an berpijak dari kesadaran epistimologi akan keterkaitannya yang bersifat dialektis dengan realitas sosial budayanya. Metode kajian ini implikasi teoritisnya sangat berbeda dengan metode teosentris seperti yang dipahami oleh ulama kebanyakan. Sehingga menurut Nashr Hamid, penafsiran al-Qur’an bisa lebih obyektif, tidak a-historis dan bebas dari bias ideology atau kepentingan tertentu.[29]
Pada saat yang sama, Nash Hamid mengatakan bahwa al-Qur’an juga merupakan teks manusia (nass insani) karena teks sejak awal diturunkan yaitu ketika teks diwayuhkan dan dibaca oleh Nabi Muhammad sa ia berubah dari sebuah teks Ilahi (Nash Ilahi) karenanya dia berubah dari tanzil menjadi takwil. Seperti yang diungkapkan dalam bukunya “Naqd al-Khitab al-Dini” :
إن القرآن – محوار حديثنا حتى الآن – نص ديني ثابت من حيث منطوقه، لكنه من حيث يتعرض له العقل الإنساني ويصبح “مفهوما” يفقد صفة الثابت ، إنه يتحرك يتعدد دلالته. إن الثابت من صفة المطلق والمقدس ، أم الإنساني نسبي متغير. والقرآن نص مقدس من ناحية منطوقة، لكنه يصبح مفهوما بالنسبي والمتغير ، أي من جهة الإنسان ويتحول إلى نص إنساني “يتأنس”. ومن الضروري هنا أن نؤكد أن حالة االنص الخام المقدس حالة ميتافيزقية لا ندري عنها شيأ إلا ماذكره النص عنها والفقهه بالضرورة من زاوية الإنسان المتغير والنسبي. النص منذ لحظة نزوله الأولى – أي مع قرائة النبي له لحظة الوحي – تحول من كونه (نص إلاهيا) و صار فهما (نص إنسانيا). لأنه تحول من التنزيله إلي التأويل.[30]
(Sesungguhnya al-Qur’an yang menjadi poros pembicaraan kita sampai saat ini, adalah teks keagamaan yang tetap (thabit, fixed) dari sisi lafadnya, namun dari sisi saat berinteraksi dengan akal manusia dan menjadi sebuah konsep, maka hilanglah sifat ketetapannya. Kemudian teks yang tetap itu bergeser menjadi makna ragam. Karena sesungguhnya sifat yang tetap itu adalah bagian sifat absolut yang sacral. Namun secara manusiawi, dia adalah relative dan berubah. Maka al-Qur’an adalah teks sacral lafadznya, tetapi kemudian dia menjadi konsep yang relative dan berkembang, yaitu dari sisi pandangan manusia dan bergeser menjadi teks manusiawi, berinkarnasi (yata’anasu). Jadi patut kita tekankan bahwa kedudukan teks yang mentah dan sakaral adalah bentuk manifistasisnya yang tidak kita ketahui sedikitpun tentangnya, melainkan yang disebutkan oleh teks itu sendiri dan kita fahaminya secara urgensi dari sudut pandang manusia yag berubah dan relative, teks sejak waktu turunnya atau bersamaan dengan pembacanya, dengan pembacaannya oleh Nabi saat turunnya telah bergeser kedudukannya dari Tek’s Tuhann, menjadi sebuah pemahaman (teks manusia). Hal ini disebabkan al-Qur’an telh brgeser dari wahyu (tanzil) menjadi interpretasi (ta’wil)).
Firman Tuhan yang berupaa sifat-sifat tindakan Tuhan, merupakan fenomen sejarah. Sebab, semua tindakan Tuhan adalah tindakan di dunia yang tercipta dan hadits, dengan kata lain, bersifat historis. Demikian pula al-Qur’an merupakan fenomena sejarah dari segi bahwa ia merupakan salah satu manifestasi firman Tuhan, hanya saja al-Qur’an merupakan manifestasi yang paling komprehensif, karena ia paling akhir.[31] Oleh sebab itu, menurutnya, al-Qur’an adalah teks historis (a historical text). Historisitas teks, realitas dan budaya sekaligus bahasa, menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah teks manusiawi (nash insani).
Dengan segala kreteria al-Qur’an yang diyakininya, Nashr Hamid menegaskan, bahwa teks-teks keagamaan adalah teks-teks bahasa yang bentuknya sama dengan teks-teks lainnya di dalam budaya. Sebagaimana diungkapkannya :
أن النصوص الدينية نصوص لغوية شأنها شأن أية نصوص الأخري في الثقافة.[32]
Dari sini terlihat betapa pemikiran Nashr Hamid terpengaruh oleh Schleirmacher, yang dikenal sebagai bapak hermeneutika modern, yang berpendpat bahwa penafsiran kitab suci tidaklah membutuhkan metode khusus karean jika dibutuhkan metode khusus maka hanya sebagia orang saja yang bisa memahaminya.[33] Dengan menyamakan al-Qur’an dengan teks-teks lainnya, maka dengan sendirinya membebaskan siapa saja boleh menafsirkan al-Qur’an sebagaimana ditegaskannya “saya mengkaji al-Qur’an sebagai teks berbhasa Arab agar dikaji oleh kaum Muslimin, Kristen maupun Atheis”.[34] Dengan demikain dalam pandangan Nashr Hamid, titik berangkat penafsiran al-Qur’an tidaklah berpijak dari keimanan tapi lebih kepada kesusastraan saja.
3. Problem Humanitas Teks
Prinsip dasar interpretasi, bagi Nashr Hamid adalah, “al-Qur’an tidaklah dimaksudkkan untuk menjawab semua problem manusia”. Al-Quran tidak mengandung segalanya. Bayak hal yang harus diperoleh dari luar al-Quran. Menurutnya, jika interpretasi al-Qur’an selalu utuk mengaktualisasikan segala macam kebutuhan dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia, maka interpretasi akan dengan mudah dimanipulasi. Sehingga interpretasi akan menjadi upaya pembenaran atas suatu opini atau posisi tertentu. Mengenai adanya ayat al-Qur’an yang menyatakan :
وَنَزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ
“… dan Kami turunkan al-Qur’an sebagai penjelasan atas segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta berita gembira bagi orang-orang Muslimin.”[35]
Dan ayat :
مَا فَرَطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْء
“… tidaklah kami alpakan sesuatupun dari kitab ini…”[36]
Dalam menginterpretasikan ayat-ayat ini Nashr Hamid mengatakan, bahwa “ segala sesuatu” dalam ayat-ayat ini berarti “(segala) sesuatu dalam kerangka agama”, karena al-Qur’an adalah kitab agama, bukan buku filsfat, sains atau teknik”.[37]
Implikasi paling nyata dari kerangka yag diletakkan Nashr Hamid ketika merealisasikan teks dengan bahasa, budaya dan sejarah tersebut adalah termanusiawikannya al-Qur’an sebagaiman teks kebahasaan umumnya. Dengan istilahnya lain, al-Qur’an telah menjadi sebuah produk budaya (cultural product) yang berada dalam genggaman manusia (textus receptus), serta terbuka terhadap kerja-kerja penafsiran. Proposisi ini tidak lantas berarti Nashr Hamid menafikkan keyakinan bahwa Allah sebagia sumber ide ontologism al-Qur’an. Dasarnya antara lain dapat ditemukan ktika ia memetakan pengertiannya Kalam dan Lughah.
Dalam konstruk pemikirannya, terdapat distansi (jarak) ontologism antara realitas Tuhan yang supranatural dan manusia yag natural. Pda saat Kalam Allah, sebagai sesuatu integral dengan dzat ketuhananNya, terfirmankan melalui perantaraan malaikat Jibril, kepaada Muhammad dengan medium komunikasi lughah (bahasa Arab), maka pada detik yang sama, sesungguhnya wahyu tersebut telah tersejarahkan oleh intervensi budaya yang ada.[38] Suara Tuhan yang Illahi terkonversikan sudah menjadi simbol-simbol kosa kata bahasa Arab yang manusiawi, produk dari konvensi suatu budaya masyarakat tertentu di priode zaman yang tertentu pula. Ide tuhan yang absolut kini telah menjelma kedalam bentuk teks kebahasaan manusia yang relatif.
Dengan demikian, bagi Abu Zayd, al-Qur’an sepatutnyalah dilihat sebagai teks yang berkarakter kutural
sehingga terbuka terhadap pemahaman dan interpretasi yang bersifat histories.[39] Dengan demikian sudah tidak ada sakralitas pada al-Qur’an karena al-Qur’an tidaklah lebih dari teks-teks sastra biasa. Al-Qur’an adalah teks bahasa Arab yang muncul dalam konteks sejarah melalui diaolog intensif dalam setiap peristiwa sejarahnya.
Abu Zayd tampak menghindari diskusi mengenai dimensi Tuhan dalam studi al-Qur’an, Karena menurutnya hal itu berada di luar investigasi ilmiah (scientific investigation), atau termasuk kategori mythological insight. Pada konteks ini, dengan menunjuk sebuah teori sastra, ia mengemukakannya sebagai kematian sang pengarang (the death of the author).[40] Tatkala teks lahir, sesungguhnya ia telah lepas dari penulisnya, zamannya, dan juga realitas yag memproduksinya. Teks menjadi otonom dan dapat diakses oleh aktivitas nalar di luar pengarangya sendiri.[41] Dan jika al-Qur’an yang dimaksudkan di sini, maka maksud al-muallinya Abu Zayd tidak lain adalah “kematian” Tuhan dalam proses pemahaman dan penafsiran teks.
4. Problem Tekstulaitas Al-Qur’an
Nashr Hamid berusaha untuk membuktikan bahwa al-Qur’an adalah teks yang menyejarah, hal ini menurutnya diindikasikan oleh karekteristik al-Qur’an itu sendiri. Pertama, al-Qur’an memuat pesan-pesan ajaran Allah untuk manusia yag diwujudkan dalam sebuah teks berbahasa Arab yang dirutunkan (wahyu) kepada utusanNya, Muhammad saw, dengan cara diwahyukan, dari balik tabir dan diutus satu utusan. Dari sini Nashr Hamid membuat konfigurasi tentang proses turunnya ahyu dari Allah ke malaikat, kemudian dari malaikat ke Rasul engan saling bertemu, denngan menggunakan alat komunikasi berupa bahasa arab. Karena wahyu secara semantic sejajar dengann perkataan Tuhan (kalam Allah) dalam al-Qur’an dan karena al-Qur’an juga merupakan sebuah pesan, maka tidak berarti salah apabila masyarakat Muslim mengaitkan al-Qur’an sebagai sebuah teks.[42]
Jika diperhatikan lebih jauh, penyimpulan diatas terlihat lebih jelas ketika Nashr Hamid menegaskan bahwa istilah wahyu (wahyu, revalation) dan risalah (pesan, message) sebagai pusat penandaan al-Qur’an, khususnya dalam usahanya untuk mendefinisikan al-Qur’an sebagai sebuah teks.[43] Ia memandang bahwa teks merupakan hasil pewahyuan yang merupakan bentuk komunikasi.[44] Selanjutnya Nashr Hamid membagi element komunikasi tersebut menjadi enam elemen, yaitu risalah (pesan), Mukhatib/Mursil (pengirim), Mukhatab/Mustaqbil (penerima), ‘alaqat ittishal (jenis hubungan), shifra/nizam lughawi (kode) dan waqi’ wa thaqafah (kontek).[45] Pengaruh Roman Jakobson’s (1896-1982) dalam pembagian elemen tersebut tampak jelas walaupun dengan istilah yang berbeda, yaitu addresser, addresse, message, contxt, code, dan contact.[46]
C. Hermeneutika Nashr Hamid Abu Zayd
Menurut Nashr Hamid, pembacaan teks-teks kegamaan (al-Qur’an dan haits) hingga saat ini msih belum menghasilkann interpretasi yang bersifat ilmiah objektif (‘ilmi-madlu’i)[47], bahkan terpasung dengan pewarnaan (talwin) unsure-unsur mistik (usthurah), khurafat dan interpretasi literal yang mengatasnamakan agama. Penyimpulan Nashr Hamid ini didasarkan pada pengamatanya terhadap fenomena dan gerakan perkembangan keagamaan. Oleh Karena itu, dalam meujudkan interpretasi yag hidup dan saintifik terhadap teks-teks keagamaan, Nashr Hamid menaarkan interpretasi rasional dan menekankan pentingnya kesdaran ilmiah dalam berinteraksi dengan teks-teks keagamaan. Hal ini dilakukan untuk membersihkan teks keagamaan dari unsure-usur yang berbau mistik, khurafat, dan bercorak interpretasi literal yang digemoni oleh aspek ideologis.[48]
Dengan pendekatan ini, Nashr Hamid berusaha mewujudkan sebuah proyek penyelidikan (al-masyru’ al-istiksyafi). Keterpasungan interpretasi yag tidak sejalan dengan tabiat dan sifat dasar teks, sehingga makna yang dihasikannya tidak melalui mekanisme sebuah penafsiran. Baginya corak interpretasi ini lebih menonjolkan unsur ideologi dari pada unsur keilmiahan dan biasanya dimonopoli oleh kalangan fundamentalis yang mengabaikan indikasi peranan penguasa baik dalam isu-isu keadilan sosial, independensi ekonomi maupun politik. Kalangan pemsung interpretasi ini menurut Nashr Hamid, senantiasa beranggapan bahwa Islam adalah satu-satuya solusi (al-Islam Huwa al-hall) dan menganggapnya sebagai komponen substantif orisinil (mukawin Jawhari ashil) dalam pembentukan umat.
Slogan seperti ini dipandang Nashr Hamid sebagai ‘problem’ pembacaan teks-teks keagamaan yang paling tidak ilmiah dan objektif hingga saat ini.[49] Tidak mengherankan bila kemudian Abu Zayd menyayangkan peran ulama abad ke-4 dan ke-5 H yang telah membuat kreteria maqbul-mazhum (diterima-tercela) dibidang penafsiran. Menurutnya, criteria tersebut hanyalah akal-akalan ulama ahlisunnah. Interpretasi rasional yang dimaksud Nashr Hamid adalah corak pendekatan interpretasi yang dilakukan oleh golongan pencerah (tanwiriyyun) atau biasa disebut sebagai golongan sekuler. Sebab pada intinya sekularisme, bagi Nashr Hamid, tidak lain hanyalah ajaran tentang “interpretasi realistis dan pemahaman yang ilmiah terhadap agama” (al-ta’wil al-haqiqi wa l-fahm al-‘ilmi li l-din). Dengan demikian Abu Zayd menolak tegas tuduhan pra fundamentalis Islam yang memandang golongan sekuler sebagai atheis (mulhid) yang memisahkan agama dari masyarakat dan kehidupan.[50]
Interpretasi teks-teks keagamaan, menurutnya adalah bagian dari pemikiran keagamaan. Pemikiran keagamaan hanya tunduk pada hukum yang mengatur gerak pemikiran manusia dan tidak berasumsi bahwa agama adalah sakral dan mutlak. Oleh karena itu, Nashr Hamid melakukan pemisahan antara ‘agama’ dan pemikiran ‘pemikiran keagamaan’. Agama dimaknai sebagai kumpulan teks-teks suci yang tetap secara historis. Sedangkan pemikiran keagamaan adalah usaha ijtihad pemikiran manusiawi untuk memahami teks-teks agama, menginterpretasikannya dan menemukan maknanya yang terus berkembang seiring dengan berkembangnya zaman dan menurut ruang lingkupnya. (al-din huwa majmu’atu l-nushush al-muqadasah al-tssabitah tarikhiyyan. Fi hini anna l-fikra dini huwa ijtihadat al-bashariyyah li fahmi tilka l-nushush wa ta’iluha wa istikhraj dalalatih).[51]
Interpretasi rasional terhadap teks-teks agama, bagi Nashr Hamid dapat direalisasikan dengan ‘supremasi data empiris’, yaitu dengan cara menumbuhkan kesadaran historis ilmiah terhadap teks-teks keagamaan. Pengertian kata kesadaran (wa’y) di sini adalah segala aktivitas yang terus berkembang dan tidak mengenal bentuk kemapanan (formalisasi).[52] Sedangkan maksud menumbuhkan kesadaran historis ilmiah terhadap teks agama (al-Qur’an) yaitu dilakukan dengan pendekatan linguistik. Pendekatan linguistik versi Nashr Hamid tidak menempatkan peranan pencipta teks (Allah SWT)[53] dalam menafsirkan teks, tapi peranan tersebut secara mutlak diserahkan pada pembaca teks (manusia), dengan segala aspek sosial dan latar belakang historisnya. Corak penafsiran teks Nashr Hamid lebih ditekankan paa superioritas data empiris dan menjadikannya sebagai landasan pokok berbudaya dan beragama.[54] Dengan demikian, interpretasi dn makna teks tidak pernah bepenghujung, bahkan ia senantiasa berkembang seiring dengaan berkembangnya realitas. Sebab teks berasal dari realitas, sehingga makna teks pun dengan sendirinya harus mengikuti perubahan realitas.
Dengan menggunkan prinsip ini, maka makna teks al-Qur’an pun tidak pernah sampai pada makna final. Sebab menurut Nashr Hamid yang bersifat final dan tetap hanyalah Allah. Inilah sejatinya paham realisme (al-waqi’iyyah) yang memandang bahwa realitas lahiriyah (material) dapat menggambarkan wujud hakiki, tanpa memerlukan pengetahuan akal.[55] Dengan menyelami realitas disekitar teks, maka Nashr Hamid mempromosikan mekanismenya dalam memaknai sebuah teks. Yaitu teks ditinjau dari latar belakang kondisi historisnya yang didukung oleh analisa linguistik. Inilah hakekat ‘proyek penyelidikan ilmiah’ versi Nashr Hamid. Sebab teks-teks agama bukanlah solusi akhir melainkan sekedar kumpulan teks-teks linguistik, yang berarti bahwa teks-teks tersebut bersandr pada kerangka kebudayaan terbatas, yang sempurna pembuatannya (diproduksi) sesuai dengan aturan legal kebudayaan tersebut dan memposisikan bahasa sebagai system pemaknaannya yang sentral.[56]
Dalam pendapatnya bahwa al-Qur’an sebagai teks manusiawi, kebenaran al-Qur’an tidak lagi dinyatakan mutlak, sebaliknya dianggap telah bergeser dari makna yang relatif. Maka bagi kaum Islam Liberal, hermeneutika dipandang perlu sebagai perangkat interpretasi keagamaan. Pendapat Nashr Haid ini diperkuat oleh muridnya Moch Nurikhwan dengan mengatakan bahwa hermeneutika dimaknai sebagai teori dan metode yang memfokuskan dirinya pada problem pemahaman teks. Dikataan problem, mengingat sejak diwahyukan, al-Quraan dirasakan sulit untuk dipahami dan dijelaskan. Problem itu rumit manakala Rasulullah wafat, sehingga tidak ada lagi otoritas tunggal yag menggantikannya. Oleh karena itu, penggunaan hermeneutika dalam studi al-Qur’an tidak bisa diabaikan lagi. Bahkan saat ini hermeneutika al-Qur’an dinyatakan telah menjelma menjadi kajian interdisiplin yang memerlukan penerapan ilmu-ilmu dan humanitas.
Nashr Hamid memandang al-Qur’an secaara dikhotomis yang memiliki dua dimensi: dimensi historis (nisbi, relative dan berubah) dan dimensi ketuhanan (mutlak dan tetap), lalu Nashr Hamid mempertanyakan “apakah setiap yang termaktub dalam al-Qur’an adalah firman Allah yang harus diaplikasikan?” pertanyaan ini dijawabnya dengan manganalogikan pada bible dalam pandangan Kristen, “according to christian doctrine, not everything that jesus said was said as the son of god. sometimes jesus behaved just as man”.[57]
Akhiru-l kalam
Al-Qur’an kitab pegangan hidup umat Islam yang kita aminin bersama, dalam pemikiran Nashr Hamid merupakan kitab suci yang tidak lagi agung dalam artian kitab yang sakral. Hal ini dibuktikannya dengan memberikan pernyataan, bahwa apabila pernyataan al-Qur’an sebagai kitab suci tetap dipertahankan maka akan menghalangi pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, para ulama tradisional yang memberikan batasan penafsiran al-Qur’an, menjadikan penafsiran-penafsiran al-Qur’an yang mengandung kepentingan-kepentingan atau sebuah ideologi tertentu.
Oleh karenanya, sebuah keniscayan guna membongkar bangunan lama yang telah mengakar tersebut dengan menghadirkan metodelogi kritik bahasa dan sastra. Sehingga al-Qur’an yang kita percaya sebagai teks murni dari Tuhan, dapat ditafsirkan menurut pembacanya tanpa harus adanya pembatasan-pembatasan dalam penafsirannya. Dan ia menyatakan, sebelum menafsirkan al-Qur’an, hendaknya kita memaknainya sebagai kitab agung berbahasa Arab.
Berawal dari makalah sederhana ini, penulis mengajak para pembaca untuk lebih dalam mempelajari lebih pemikiran Nashr Hamid Abu Zayd. Dan dapat memberikan kritikan-kritikan yang membangun dalam setiap pendapatnya. Semoga makalah ini dapat memberikan inspirasi tersendiri buat pembaca, kekurangan dalam penulisan merupakan suatu keterbatasan dari penulis. Wallahu ‘alam bishowab.
Daftar Pustaka
Abu Zayd, Nashr Hamid, Naqd al-Khitab al-Dini, Kairo: Sina li al-Nashr, 1992, edisi 1
Abu Zayd, Nashr Hamid dan Nelson Esther R., Voice of an Exile: Reflection on Islaam: Westport, Connecticut, London, 2004
Abu Zayd, Nashr Hamid, al-Imam al Syafi’il wa Ta’sis al-Aidiulujiyyah al-Wasatiyyah, Matabah madbuli, Kairo, 2003
Abu Zayd, Nashr Hamid, Al-Nash, al-Sulthah, al-haqiqah
Abu Zayd, Nashr Hamid, al-Qur’an Hermeneutika dan Kekuasaan, RQiS, Bandung, cetakan 1, 2003
Abu Zayd, Nashr Hamid, Mafhum al-Nass: Dirasah fi ‘Ulum Al-Qur’an, Markaz al-Shaqafi al-‘arabi, Beirut
Al-Kulli, Amin, Manahij Tajdid fi al-Nahwu wa al-Balagha wa al-Tafsir wa al-Adab, al-Hay’a al-Misriyya al-‘Amma li-al-Kitab, Kairo, cetakan I, 1995
Al-Qur’an al-Karim
Armas, Adnin, Metodelogi Bible dalam Studi Al-Qur’an Kjian Kritis, Gema Insani, Jakarta, Cetakan ketiga, 2007
Husaini, Adian dan Salahuddin Henri, Studi Komparatif: Konsep Al-Qur’an Nashr hamid dan Mu’tazilah, majalah Islamia, Th 1 No. 2/Juni-Agustus 2004.
Ichwan, Moch. Nur, Meretas Kesarjanaan Kritis Al-Qur’an: Teori Hermeneutika Nashr Hamid Abu Zayd, Teraju, Jakarta, cet.pertama, 2003
Majalah Gatra, Nomor 44 beredar 44 Jum’at 10 September 2004
Rahman, Yusuf, The Hermeneutical Theory of Nashr Hamid Abu Zayd : An Analytical Study of His Method of Interpreting the Qu’an, A Thesis of the degree of Doktor of Philosophy, Institute of Islamic Studies McGill University Montreal, Canada, 2001
www.wikipedia.org/…/wiki/nashr/_Abu_Zayd
Sumber: http://luznadamai.wordpress.com/2011/01/31/studi-al-qur%E2%80%99an-nashr-hamid-abu-zayd/
Sayap Lalat dan Antibiotika
Tentu saja salah satunya karena sistem kekebalan tubuh sang lalat sendiri. Para ilmuan dari jurusan ilmu-ilmu biologi, universitas Macquarie, berbekal teori kalau lalat pasti memiliki pertahanan diri anti mikroba untuk bertahan hidup dari kotoran, daging dan buah busuk, melakukan penelitian sifat-sifat antimikroba pada berbagai tahap perkembangan lalat.
Larva lalat, baik itu lalat buah ataupun lalat rumah, sudah menunjukkan sifat antibakteri di permukaan tubuhnya maupun di perutnya. Begitu pula semua lalat dewasa.
Dalam eksperimen mereka, lalat dicelupkan dalam larutan yang mengandung beraneka kuman yaitu E.coli, Staphilococcus Emas, Candida (sejenis ragi), dan patogen rumah sakit yang umum. Ketika dicelupkan terlihat adanya aksi antibiotika dari tubuh lalat terhadap serangan kuman-kuman ini.
Kaabah dulu kuil Hindu ?
By P.N. Oak (Historian)
Ternyata didalam Kabah, ada sebuah inskripsi yg merujuk kpd raja Vikramaditya. Ini membuktikan tanpa ragu bahwa jazirah Arab dulu merupakan bagian dari Kerajaan Vikramaditya dari India.
Teks inskripsi Vikramaditya yg ditemukan dlm piring emas yg digantung didalam kuil Kabah di Mekah ini, dicatat pada halaman 315 dari buku yg berjudul 'Sayar-ul-Okul’ yg disimpan dlm perpustakaan Makhtab-e-Sultania di Istanbul, Turki. Terjemahan inskripsi tsb:
(Sayar ul Okul berarti 'Kata2 Berkesan')
"Beruntunglah mereka yg lahir (dan hidup) selama kuasa raja Vikram. Ia seorang penguasa penuh kasih, terhormat dan berbakti pada penduduknya. Namun pada saat itu, kami Arab, tidak peduli pada Tuhan, tenggelam dlm kenikmatan sensual. Komplotan dan penyiksaan merajalela ... Kami, Arab, terjerat dlm kegelapan (jahiliyah)... namun pendidikan yg disebar raja Vikramaditya tidak mencampakkan kami, orang2 asing. Ia menyebarkan agama sucinya diantara kami dan mengirimkan ahli2 yg kepitanrannya bersinar spt matahari dari negaranya kenegara kami..."
KESAKSIAN YANG MENGEJUTKAN DARI ALBERTO RIVERA EX PENDETA JESUIT DAN CARDINAL BEA DARI GEREJA KATOLIK DARI ROMA: Bagaimana Vatikan menciptakan Islam " Sumber: http://www.cloakanddagger.de/lenny/alberto_rivera.htm Bagaimana Vatikan menciptakan Isl
- From: Bang Sapri <djunus0724@xxxxxxxxx>
- Date: Sun, 24 Jan 2010 03:25:37 -0800 (PST)
KESAKSIAN YANG MENGEJUTKAN DARI ALBERTO RIVERA EX PENDETA JESUIT DAN
CARDINAL BEA DARI GEREJA KATOLIK DARI ROMA: Bagaimana Vatikan
menciptakan Islam "
Sumber: http://www.cloakanddagger.de/lenny/alberto_rivera.htm
Bagaimana Vatikan menciptakan Islam. Cerita
yang mengherankan dari seorang mantan pendeta Jesuit, Alberto
Riv...era,
yang diberitahu kepadanya oleh Kardinal Bea ketika ia berada di
Vatikan.
Dari "Nabi":
http://www.choosinglife.net/Islam.htm
Informasi ini datang dari Alberto Rivera, mantan imam Yesuit setelah
konversi ke Kristen Protestan. Hal ini dikutip dari "Nabi,"
diterbitkan oleh Chick Publications, PO Box 662, Chino CA 91.708.
Sejak publikasi, setelah beberapa kali gagal dalam hidupnya, ia
meninggal tiba-tiba dari keracunan makanan. Kesaksiannya tidak boleh
dibungkam. Dr Rivera berbicara kepada kita masih ...
"Yang
saya akan memberitahu Anda adalah apa yang saya pelajari di briefing
rahasia di Vatikan ketika saya adalah seorang pendeta Jesuit, di bawah
sumpah dan induksi. Seorang kardinal Jesuit bernama Agustinus Bea
menunjukkan kepada kita bagaimana Katolik Roma sangat menginginkan
Yerusalem pada akhir abad
ketiga. Karena sejarah agama dan lokasinya yang strategis, Kota Suci
itu dianggap sebagai harta tak ternilai. Sebuah skema harus
dikembangkan untuk menjadikan Yerusalem sebuah kota Katolik Roma.
"Belum
dimanfaatkan besar sumber tenaga yang dapat melakukan pekerjaan ini
adalah anak-anak Ismail. Arab Masyarakat miskin menjadi korban ke
salah
satu rencana yang paling pandai yang pernah disusun oleh kuasa-kuasa
kegelapan. Awal Kristen ke mana-mana dengan Injil mendirikan
gereja-gereja kecil, tetapi
mereka bertemu oposisi berat. Baik Yahudi dan pemerintah Romawi
menganiaya orang-orang percaya dalam Kristus untuk menghentikan
penyebarannya. Tetapi orang-orang Yahudi memberontak melawan Roma, dan
pada tahun 70 AD, pasukan Romawi dibawah Jenderal Titus menghancurkan
Yerusalem dan menghancurkan kuil besar Yahudi yang jantung ibadah
Yahudi ... dalam pemenuhan nubuat Kristus dalam Matius 24:2.
"Pada
hari suci ini ditempatkan di mana kuil itu pernah berdiri, Kubah
Masjid
Batu berdiri sebagai Islam tempat kedua yang paling suci. Penyapuan
perubahan dalam angin. Korupsi, apatis, keserakahan, kekejaman,
penyimpangan dan pemberontakan sedang makan di Kekaisaran Romawi ,
dan itu siap untuk roboh. Penganiayaan terhadap umat Kristen itu
sia-sia ketika mereka terus berbaring nyawa mereka demi Injil Kristus.
"Satu-satunya
cara setan bisa menghentikan dorongan ini adalah untuk menciptakan
palsu" Kristen "agama untuk menghancurkan pekerjaan Allah. Solusinya
adalah di Roma. Agama mereka telah datang dari Babel kuno dan semua
yang diperlukan adalah face-lift. Didn ini 't terjadi dalam semalam,
namun mulai dalam tulisan-tulisan tentang' gereja mula-mula ayah '.
"Itu
melalui tulisan-tulisan mereka bahwa agama baru akan terbentuk. Patung
Jupiter di Roma itu akhirnya disebut Santo Petrus, dan patung Venus
diubah menjadi Perawan Maria. Situs dipilih untuk kantor pusatnya
berada di salah satu tujuh bukit yang disebut 'Vaticanus', tempat
menyelam ular di mana kuil setan Janus berdiri.
"Agama
palsu yang besar adalah Katolik Roma, yang disebut 'Misteri, Babel
Besar, Ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian Earth'-Wahyu
17:5. Dia dibangkitkan untuk memblokir Injil, pembantaian orang-orang
percaya dalam Kristus, menegakkan agama-agama , membuat perang dan
membuat bangsa-bangsa mabuk oleh anggur percabulannya nya seperti yang
akan kita lihat.
"Tiga
agama besar mempunyai satu kesamaan - masing-masing memiliki tempat
suci di mana mereka mencari petunjuk. Gereja Katolik Roma memandang ke
Vatikan sebagai Kota Suci. Orang-orang Yahudi melihat ke dinding
ratapan di Yerusalem, dan kaum muslim melihat ke Mekah sebagai Kota
Kudus. Setiap kelompok percaya bahwa mereka menerima berkat-berkat
tertentu selama sisa hidup mereka untuk mengunjungi tempat suci
mereka.
Pada awalnya, Arab pengunjung akan membawa hadiah untuk 'Rumah Allah
",
dan para penjaga Ka'bah yang ramah bagi
semua orang yang datang. Beberapa membawa berhala-berhala mereka, dan
tidak ingin menyinggung perasaan orang-orang ini, berhala-berhala
mereka ditempatkan di dalam tempat kudus. Dikatakan bahwa orang-orang
Yahudi memandang Ka'bah sebagai Kemah terpencil Tuhan dengan
penghormatan hingga menjadi tercemar dengan berhala.
"Dalam
pertikaian suku di atas sebuah sumur (Zamzam) harta Ka'bah dan
persembahan yang diberikan peziarah yang dibuang ke dalam sumur dan
itu
penuh dengan pasir - itu menghilang. Bertahun-tahun kemudian ADB
Al-Muththalib diberi penglihatan mengatakan kepadanya dimana
untuk menemukan sumur dan harta. Ia menjadi pahlawan Mekah, dan ia
ditakdirkan untuk menjadi kakek Muhammad. Sebelum saat ini, Agustinus
menjadi uskup dari Afrika Utara dan efektif dalam memenangkan
orang-orang Arab ke Katolik Roma, termasuk seluruh suku. Itu adalah di
antara Arab ini mengkonversi ke Katolik bahwa konsep mencari nabi Arab
dikembangkan.
"Ayah
Muhammad meninggal karena penyakit dan anak laki-laki lahir dari
keluarga Arab yang besar di tempat-tempat seperti Mekkah telah dikirim
ke padang gurun untuk menyusui dan disapih dan menghabiskan sebagian
masa kanak-kanak mereka dengan suku Badui untuk pelatihan dan untuk
menghindari malapetaka di kota-kota.
"Setelah
ibunya dan kakek juga meninggal, Muhammad dengan pamannya ketika
seorang biarawan Katolik Roma mengetahui identitasnya dan berkata,"
Ambillah putra kakakmu kembali ke negaranya dan menjaganya terhadap
orang-orang Yahudi, oleh Tuhan, jika mereka bertemu dengannya dan tahu
bahwa yang aku tahu, mereka akan menafsirkan jahat terhadap dirinya.
Hal-hal besar berada di toko untuk saudaranya ini anakmu. "
"Biarawan
Katolik Roma telah mengipasi api untuk masa depan penganiayaan Yahudi
di tangan para pengikut Muhammad. Vatikan sangat menginginkan
Yerusalem
karena makna keagamaan, tetapi dihalangi oleh orang-orang Yahudi.
"Masalah
lain adalah orang Kristen sejati di Afrika Utara yang memberitakan
Injil. Roma Katolik yang tumbuh dalam kekuasaan, tapi tidak akan
mentolerir oposisi. Entah bagaimana Vatikan harus membuat senjata
untuk
menghilangkan kedua orang Yahudi dan orang-orang Kristen sejati yang
menolak untuk menerima Gereja
Katolik Roma. Lookng ke Afrika Utara, mereka melihat banyak sekali
orang Arab sebagai sumber tenaga kerja untuk melakukan pekerjaan kotor
mereka. Beberapa orang Arab telah menjadi Katolik Roma, dan dapat
digunakan dalam pelaporan informasi kepada para pemimpin di Roma. Yang
lainnya digunakan di bawah tanah jaringan
mata-mata untuk melaksanakan rencana induk Roma untuk mengendalikan
banyak orang besar dari orang-orang Arab yang menolak Katolik. Ketika
'St Augustine' muncul di tempat kejadian, ia tahu apa yang sedang
terjadi. biara-Nya menjabat sebagai basis untuk mencari dan
menghancurkan naskah Alkitab yang dimiliki oleh Kristen sejati.
"Vatikan
ingin menciptakan sebuah mesias bagi bangsa Arab, mereka bisa
menaikkan
seseorang sebagai seorang pemimpin besar, seorang pria dengan karisma
yang mereka bisa melatih, dan akhirnya menyatukan semua orang Arab
non-Katolik di belakangnya, menciptakan sebuah pasukan besar yang pada
akhirnya akan merebut Yerusalem untuk paus. Dalam briefing Vatikan,
Kardinal Bea menceritakan kami kisah ini:
'Seorang wanita kaya Arab yang menjadi pengikut setia paus memainkan
bagian besar dalam drama ini. Dia adalah seorang janda bernama
Khadijah. Dia memberinya kekayaan ke gereja dan pensiun ke biara, tapi
diberi tugas. Dia
adalah menemukan seorang pria muda brilian yang bisa digunakan oleh
Vatikan untuk menciptakan agama baru dan menjadi mesias bagi anak-anak
Ismail. Khadijah
punya sepupu bernama Waraquah,, yang juga sangat setia Katolik Roma
dan
Vatikan menempatkannya dalam peran penting sebagai penasihat Muhammad.
Dia punya pengaruh besar pada Muhammad.
'Guru dikirim ke muda Muhammad dan ia pelatihan intensif. Muhammad
mempelajari karya-karya St Augustinus yang mempersiapkan dirinya untuk
"memanggil yang besar." Vatikan
itu Katolik Arab di Afrika Utara menyebarkan cerita besar yang hendak
naik di kalangan rakyat dan menjadi salah satu dari mereka yang
dipilih
Tuhan.
"Sementara
Muhammad sedang disiapkan, ia diberitahu bahwa musuh-musuh orang-orang
Yahudi dan bahwa satu-satunya orang Kristen sejati adalah Katolik
Roma.
Dia mengajarkan bahwa orang lain menyebut dirinya orang Kristen benar-
benar jahat penipu dan harus dihancurkan. Banyak Muslim percaya ini.
'Muhammad mulai menerima "wahyu ilahi" dan istrinya sepupu Katolik
Waraquah membantu menafsirkannya. Dari sinilah muncul Quran. Pada
tahun kelima dari misi Muhammad, penindasan datang melawan para
pengikutnya karena mereka menolak untuk menyembah berhala-berhala di
Ka'bah.
'Muhammad
memerintahkan beberapa dari mereka melarikan diri ke tempat Abysinnia
Negus, raja Katolik Roma menerima mereka karena pandangan Muhammad
perawan Maria yang begitu dekat dengan doktrin Katolik Roma. Muslim
ini menerima perlindungan dari raja-raja Katolik karena wahyu
Muhammad.
'Muhammad kelak menaklukkan Mekah dan Ka'bah dibersihkan dari berhala.
Sejarah
membuktikan bahwa sebelum Islam datang menjadi ada, yang Sabeans di
Arab menyembah dewa bulan yang menikah dengan dewa matahari. Mereka
melahirkan tiga dewi yang disembah di seluruh dunia Arab sebagai
"Putri
Allah" Sebuah patung digali di Hazor di Palestina pada tahun 1950 yang
menunjukkan Allah duduk di atas tahta dengan bulan sabit di dadanya.
'Muhammad menyatakan bahwa ia mendapat penglihatan dari Allah dan
diberitahu, "Engkau adalah utusan Allah." Ini memulai karirnya sebagai
seorang nabi dan ia menerima banyak pesan. Pada saat Muhammad wafat,
agama Islam itu meledak. Pengembara suku-suku Arab yang bergabung
dalam nama Allah dan para nabi, Muhammad.
'Beberapa dari tulisan-tulisan Muhammad ditempatkan dalam Al Qur'an,
yang lain tidak pernah dipublikasikan. Mereka sekarang di tangan orang-
orang suci peringkat tinggi (Ayatullah) di dalam iman Islam. "
"Ketika
Kardinal Bea berbagi dengan kami di Vatikan, ia berkata,
tulisan-tulisan ini dijaga karena mereka berisi informasi yang
menghubungkan Vatikan untuk menciptakan Islam. Kedua belah pihak telah
begitu banyak informasi tentang satu sama lain, yang jika terkena,
bisa
membuat seperti skandal yang itu akan menjadi bencana bagi kedua
agama.
"Dalam"
suci "buku, Quran, Kristus hanya dianggap sebagai seorang nabi. Jika
Paus adalah wakil-Nya di bumi, maka dia juga harus seorang nabi Allah.
Hal ini menyebabkan pengikut Muhammad untuk takut dan menghormati paus
sebagai lain "orang suci."
"Paus
bergerak cepat dan mengeluarkan kerbau pemberian izin jendral Arab
untuk menyerang dan menaklukkan bangsa-bangsa Afrika Utara. Vatikan
membantu untuk membiayai pembangunan besar-besaran ini pasukan Islam
untuk ditukar dengan tiga nikmat:
1. Hilangkan orang-orang Yahudi dan Kristen (orang yang beriman, yang
mereka sebut kafir).
2. Melindungi rahib Augustinian dan Katolik Roma.
3. Menaklukkan Yerusalem untuk "Bapa Suci" di Vatikan.
"Seiring
waktu berlalu, Islam menjadi kekuatan yang luar biasa - orang-orang
Yahudi dan orang Kristen sejati dibantai, dan Yerusalem jatuh ke
tangan
mereka. Roma Katolik tidak pernah diserang, tidak pula tempat-tempat
ibadah mereka, selama waktu ini. Tapi ketika meminta Paus Yerusalem,
ia
terkejut penolakan mereka! jendral Arab militer seperti sukses yang
mereka tidak dapat diintimidasi oleh paus - tidak ada yang dapat
menghalangi rencana mereka sendiri.
"Di
bawah arahan Waraquah, Muhammad menulis bahwa Abraham menawarkan
Ismael
sebagai korban. Alkitab mengatakan bahwa Ishak adalah pengorbanan,
tetapi Muhammad Ishak nama dihapus dan dimasukkan nama Ismail. Sebagai
hasil dari visi dan Muhammad, umat Muslim membangun sebuah mesjid,
Kubah
Batu, di Ismail's kehormatan di situs kuil Yahudi yang dihancurkan
pada
tahun 70 Masehi. Hal ini membuat Yerusalem ke-2 tempat paling suci
dalam iman Islam. Bagaimana mungkin mereka memberi semacam kuil suci
kepada Paus tanpa menyebabkan pemberontakan?
"Paus
menyadari apa yang telah mereka ciptakan adalah di luar kendali ketika
ia dengar mereka memanggil" Bapa Suci "seorang kafir. Jenderal Muslim
bertekad untuk menaklukkan dunia bagi Allah dan sekarang mereka
berpaling ke Eropa. Duta Islam mendekati paus dan bertanya untuk
kepausan bull untuk memberikan mereka izin untuk menyerang negara-
negara Eropa.
"Vatikan
marah; perang tak terelakkan. Temporal kekuasaan dan menguasai dunia
dianggap sebagai hak dasar paus. Dia tidak mau memikirkan berbagi
dengan orang-orang yang dianggapnya kafir.
"Paus
mengangkat pasukannya dan memanggil mereka perjuangan untuk menahan
anak-anak Ismail dari merebut Eropa Katolik. The Perang Salib
berlangsung selama berabad-abad dan Yerusalem terlepas dari tangan
paus.
"Turki
jatuh dan Spanyol dan Portugal telah diserang oleh pasukan Islam. Di
Portugal, mereka disebut desa pegunungan" Fathimah "untuk menghormati
putri Muhammad, tidak pernah memimpikan hal itu akan menjadi terkenal
di dunia.
"Bertahun-tahun
kemudian, ketika pasukan Muslim yang siap di pulau Sardinia dan
Corsica, untuk menyerang Italia, ada masalah serius. Jenderal Islam
menyadari bahwa mereka terlalu jauh diperpanjang. Sudah waktunya bagi
perundingan damai. Salah satu negosiator adalah Francis dari Assisi.
"Akibatnya,
umat Islam diizinkan untuk menduduki Turki dalam" Kristen "dunia, dan
Katolik diizinkan untuk menduduki Libanon di dunia Arab. Hal itu juga
sepakat bahwa umat Islam bisa membangun mesjid di negara-negara
Katolik
tanpa gangguan selama Gereja Katolik Roma bisa berkembang negara-
negara Arab.
"Bea
Kardinal Vatikan mengatakan kepada kami dalam briefing bahwa baik umat
Islam dan Katolik Roma setuju untuk memblokir dan menghancurkan
upaya-upaya musuh bersama mereka, yang percaya kepada Alkitab
Christianm misionaris. Melalui concordats ini, Setan menghalangi
anak-anak Ismail dari pengetahuan tentang Kitab Suci dan kebenaran.
"Sebuah
kontrol lampu terus Ayatullah Muslim dari Islam turun melalui imam,
biarawati dan biarawan. Vatikan juga insinyur kampanye kebencian
antara
Muslim Arab dan orang-orang Yahudi. Sebelum ini, mereka telah hidup
bersama secara damai.
"Umat
Islam tampak pada misionaris yang percaya kepada Alkitab sebagai setan
yang membawa racun kepada anak-anak TUHAN BAPAK, TUHAN JESUS DAN ROH
KUDUS. Hal ini menjelaskan tahun
pelayanan di negara-negara dengan sedikit hasil.
"Rencana
berikutnya adalah untuk mengontrol Islam. Pada tahun 1910, Portugal
akan sosialis. Merah bendera itu muncul dan Gereja Katolik menghadapi
masalah besar. Peningkatan jumlah mereka terhadap gereja.
"The
Jesuit menginginkan Rusia yang terlibat, dan lokasi di Fatima visi ini
dapat memainkan bagian penting dalam Islam menarik Gereja Ibu.
"Pada
tahun 1917, muncul Perawan di Fatima." Ibu Tuhan "adalah sebuah sukses
besar, bermain meluap massa. Sebagai hasilnya, Sosialis Portugal
mengalami kekalahan besar.
"Katolik
Roma di seluruh dunia mulai berdoa untuk konversi dari Rusia dan para
Yesuit menemukan novena untuk Fathimah mana mereka dapat melakukan
seluruh Afrika Utara, menyebarkan PR yang baik bagi dunia Muslim.
Orang-orang Arab mengira mereka menghormati putri Muhammad, yang
Jesuit adalah apa yang ingin mereka percaya.
"Sebagai
hasil dari visi Fatima, Pope Pius XII memerintahkan pasukan Nazi untuk
menghancurkan Ortodoks Rusia dan agama dan membuat Rusia Katolik
Roma."
Beberapa
tahun setelah ia kalah perang Dunia II, Pope Pius XII mengejutkan
dunia
dengan matahari menari palsu visi untuk menjaga Fathimah dalam berita.
It was great pertunjukan agama dan dunia menelannya.
"Tidak
mengherankan, Paus Pius adalah satu-satunya untuk melihat visi ini.
Akibatnya, sekelompok pengikut telah tumbuh menjadi Tentara Biru di
seluruh dunia, total jutaan umat Katolik Roma siap mati untuk
diberkati
perawan.
"Tapi
kita belum melihat apa pun. Kaum Yesuit memiliki Perawan Maria
dijadwalkan akan muncul empat atau lima kali di Cina, Rusia, dan
penampilan besar di Amerika
"Apa ini harus dilakukan dengan Islam? Catatan Uskup Sheen's
pernyataan:
"Our Lady's penampakan di Fatima menandai titik balik dalam sejarah
dunia 350 juta umat Islam. Setelah kematian putrinya, Muhammad menulis
bahwa dia" adalah yang paling suci dari semua perempuan di surga, di
samping Maria. "
"Dia
percaya bahwa Perawan Maria memilih menjadi dikenal sebagai Our Lady
of
Fatima sebagai tanda dan janji bahwa umat Islam yang percaya pada
kelahiran perawan Kristus, akan datang untuk percaya kepada
keilahianNya.
"Uskup
Sheen menunjukkan bahwa patung-patung perawan peziarah Our Lady of
Fatima yang antusias diterima oleh umat Islam di Afrika, India, dan di
tempat lain, dan bahwa banyak umat Islam sekarang datang ke dalam
Gereja Katolik Roma."
UNTUK JELASNYA SAUDARA DAPAT MELIHAT KEWEBSITENYA DAN SITUS DIBAWAH
INI BESERTA VIDEONYA UNTUK MENAMBAH PENGETAHUAN ANDA LEBIH JELAS
BAGAIMANA KERJA SAMA ANTARA KATOLIK ROMA, ISLAM DAN SYSTEM YANG DATANG
DARI ANTI KRISTUS UNTUK MENGHANCURKAN ALKITAB YANG DATANGNYA DARI
TUHAN YANG ASLI.
. Read More..




