Sekuler -- Sebuah negeri mustahil berhenti menjadi
plural tanpa pembunuhan. Terutama di awal abad ke-21. Persoalan yang
kemudian dihadapi adalah apa artinya ”plural”, dan apa gerangan pula
arti ”sebuah negeri”.
Jawabannya bukannya tak ada. Di Amerika
Serikat dan Inggris, ”plural” berarti ”multikultural”. Majemuk berarti
menghormati dan menjaga perbedaan adat-istiadat pelbagai paguyuban yang
ada dalam negeri itu. Majemuk berarti tidak mengasimilasikan penduduk
atau warga negara ke dalam satu kesatuan identitas yang baru setelah
yang lama dilupakan.
Dalam pandangan ini, ”asimilasi” membuat
bulu kuduk berdiri, seakan-akan sebuah penindasan, ketika akar-akar
budaya seseorang dibabat dan pelbagai manusia dilebur ke dalam sebuah
panci, untuk membentuk sebuah kebersamaan baru yang utuh dan sama rata
sama rasa—sebuah keseragaman yang represif. Namun, pandangan
multikulturalisme ini hanya salah satu jawaban bagi persoalan-persoalan
kemajemukan di abad ke-21.
Menopause
…
ada godaan dari politik yang seperti itu–baik kita seorang fasis atau
bukan. Sebab, di sana banyak hal jadi tegas, lurus, tak bisa
ditawar-tawar. Seperti halnya pertempuran: ketika dua seteru berhadapan
dengan bayonet terhunus…
Jika revolusi bukanlah sebuah jamuan
makan, demokrasi bukanlah sebuah lapo tuak. Aforisme itu tentu saja tak
amat segar, tapi kadang-kadang kita perlu ingat lagi bahwa
demokrasi–betapapun ia sebuah cita-cita yang memikat–adalah seonggok
beban. Sistem (ataukah proses?) ini bukan sebuah ruang tempat orang bisa
asyik berdebat, berembuk, minum-minum, main catur, kalah dengan sebal,
dan menang dengan riang, asal membayar. Ketika sejumlah orang berada
bersama di suatu tempat dan hendak mengupayakan hidup yang tanpa
penindasan, mereka akan segera tahu bahwa dalam sebuah demokrasi,
politik adalah sebuah jalan yang musykil. Bahkan kadang-kadang agak aib,
menjengkelkan, dan membosankan.
Pada tahun 1924, Turki ibn Abdullah, putra dari penguasa Saudi yang dipenggal di Istambul, mengambil alih Riyad, sebuah pemukiman di sebelah selatan Dir`iyyah yang dikemudian hari menjadi kota penting. Ini dapat terjadi karena pasukan dari Mesir mengundurkan diri Dari Najd pada 1821. Dari sana, kekuasannya meluas ke daerah `Aridh, Kharj, Hotah, Mahmal, Sudayr dan Aflaj. Pada 1830, ia juga berhasil memperluas kekuasaan sampai ke wilayah Hasa, salah satu medan perang saudara di antara faksi-faksi klan Saudi. Amir Turki sendiri tidak mengutak-atik kekuasaan Usmaniyah dan Mesir di wilayah Hijaz, yang menjamin keamanan kafilah-kafilah haji. (al-Rasheed, 23).
Pasukan Ibn Saud lari menyerbu. Mereka bertarung di tangga, kerumunan orang saling bergelut, berteriak dan membacok.
"Jangan bunuh aku, wahai Abu Turki, " Obaid memelas.
"Ini bukan tempat untuk belas kasihan, " jawab Ibn Saud.
"Aku akan menegakkan keadilan, pembalasan yang adil atas pembunuhan." Dia mengayunkan pedangnya tiga kali, dengan gerakan pergelangan tangan dan lengan bawah yang tangkas. Pada ayunan pertama, dia menyabet lutut Obaid dan saat Obaid terhuyung karena sabetan itu, dia menyerang lebih atas menebas lehernya sehingga darah menyembur keluar seperti dari pipa bocor.
"Saya memiliki empat istri seperti yang diizinkan Nabi, " jawab Ibn Saud.
"Tapi, berapa wanita yang telah Anda nikahi dan berapa yang telah Anda cerai?"
"Saya sudah menikahi dan menceraikan seratus wanita dan saya akan menikahi dan menceraikan lebih banyak lagi, " jawabnya.
Sumber: Sang Penjegal (Abdul Aziz Ibn Saud, Raja Saudi Arabia), karangan H.C. Armstrong, Penerbit Ramala Books, 2008)
**********